Senin, 07 Maret 2016

Perjuangan ke Jepang (IV) - Samurai (End)

Perjuangan Ke Jepang   
Perjalanan waktu itu laksana menembus pagar yang sangat tebal dari dimensi ruang. Perjalanan malam 7 jam, dengan pemandangan gelap disetiap detiknya. Sebagian besar penumpang memilih terlelap mengharapkan percepatan waktu. Sesekali tampak beberapa awak pesawat yang cantik dengan mata khas yang kecil sipit berkeliling, memeriksa kondisi penumpang yang mungkin membutuhkan bantuan. Awak kapal akan tampak selalu tersenyum dan menyapa ketika mendapati beberapa penumpang yang masih terjaga. Mereka yang terjaga, salah satunya adalah dari Indonesia, sesekali memandangi luar jendela dengan pikiran memandang jauh menembus samudera. Dan begitulah pesawat dari maskapai Jepang tersebut terus menembus malam, terbang dari Jakarta menuju sebuah negeri yang terkenal dengan Tsunaminya, Jepang.   

Jepang, adalah negara yang sudah terkenal kemajuannya di dunia baik dari segi teknologi, industri maupun kehidupan masayarakatnya. Letak geografisnya yang sangat strategis dengan udara rata-rata yang senyaman ruang ber AC membuat alamnya menarik dan menjadikan salah satu impian destinasi manusia. Lebih spesial lagi, negara kepulauan yang hanya ada dua di dunia dengan lokasi geografis seperti ini membuat Jepang semakin eksklusif. Dan memang, tidak semua orang di dunia berkesempatan menginjakkan kakinya di negeri sakura ini, karena biaya hidup yang dikenal paling tinggi di dunia.

 Mereka, penumpang pesawat dari Indonesia, yang saat itu berlima belas adalah orang-orang terpilih dan beruntung mendapat kesempatan dari perusahaan untuk menginjakkan kaki dan belajar di negeri yang terkenal kedisiplinannya. Mereka dikirim perusahaan untuk meningkatkan level kemampuannya menjadi seorang technical advisor yang profesional. Yaitu seorang yang mampu secara teknis dan attitude memberikan advise tepat dan terukur bagi power plant owner dari suatu pekerjaan overhaul steam turbine. Dan bukan hanya menjadi technical advisor saja, mereka juga mengemban amanah untuk menjadi pioner dalam kerjasama internasional yang akan membuat perusahaan kami semakin Go Internasional.

Bagi mereka, tentu saja perjalanan ini adalah sebuah amanah dan sebuah perjuangan. Niat sudah mereka tanamkan dalam hati, perjuangan ini akan membentuk mereka menjadi seorang samurai. Samurai dengan standart jepang yang sudah diakui dalam dunia Internasional akan kehebatannya dan professionalitasnya.
Mereka berlima belas terdiri dari 10 orang dari PT. PJB dan 5 dari PT. PJB Services. Perjuangan mereka sebelum berangkat sudah harus diuji dan diseleksi, selain menjalankan tugas yang saat itu kebetulan beberapa dari mereka adalam tim operasi yang sedang sibuk-sibuknya mengerjakan overhaul di beberapa tempat di Indonesia harus meluangkan waktu untuk mempersiapkan diri berbagai persiapan baik administrasi maupun ujian-ujian dan pengasahan kemampuan dasar sebagai senjata yang akan mereka bawa.

Ada 3 Persiapan yang harus mereka siapkan. Pertama, persiapan administrasi, paspor, visa, akomodasi dengan berbagai administrasinya yang cukup menyita waktu. Kedua, adalah skill, bukan sekedar skill dalam bidang teknis saja, namun skill dalam berkomunikasi sehingga harus cukup lincah dalam berbahasa, minimal bahasa inggris. Dan era sekarang, kemampuan berbahasa internasional adalah sebuah kemutlakan yang harus dimiliki setiap orang agar bisa survive dalam kemajuan. Dan yang ketiga, persiapan yang cukup penting bagi orang-orang Indonesia, yaitu persiapan mental. Hampir menjadi sisi negatif sifat orang Indonesia, yaitu sifat imperior ketika bersaing dengan orang asing. Penilaian ini tidak dari pribadi orang Indonesia sendiri, namun orang asing secara umum menilai orang Indonesia selalu imperior. Dalam pertandingan sepak bola misalnya, meskipun secara skill pemain indonesia sering unggul dengan negara lain namun akhirnya harus bertekuk lutut dengan kekalahan karena kalah dalam mental.

Akhirnya, mereka tiba di bandara Narita disambut dengan paginya negeri sakura. Dan memang benar-benar dimensi ruang yang lain di sana. Sejak pertama menjatuhkan pemandangan di Jepang hingga seterusnya sangat jauh berbeda dengan Indonesia. Benar-benar sebuah dimensi baru yang membuat mereka takjub. Bukan hanya cerita, semua hal sangat tepat waktu, teratur, simple, profesional dan ramah. Sebagai contoh umum, transportasi kereta, Japan Rail, disana sangat terjadwal dan tepat waktu. Sistem pembayarannya juga sangat mudah, tinggal memasukkan beberapa koin sesuai tarif tujuan kedalam sebuah mesin dan tiket akan tercetak. Tiket ini adalah sarana kita bisa masuk kedalam ruang tunggu. Selanjutnya saat sampai ditujuan, tiket dimasukkan kedalam sebuah mesin pintu otomatis sebagai permit keluar dari stasiun. Bila tiket tidak sesuai tujuan maka pintu tidak bisa terbuka dan alarm berbunyi. Sehingga penumpang harus membeli tiket tambahan sebagai kompensasi kekurangan biaya tiket. Sangat cepat, praktis dan efisien. Meskipun terdapat ribuan penumpang naik dan turun, semua berjalan tertib dan hampir tidak ada antrian. Bilapun terjadi antrian, secara otomatis orang-orang jepang akan berbaris rapi dan tertib mengantri.

Sikap profesional dan ramah mereka juga luar biasa. Misalkan petugas bagasi di bandara, meski perempuan, mereka tidak mau dibantu, karena itu sudah tugas mereka, dan mereka juga sangat ramah dalam memberi informasi. Bahkan saking ramahnya bila kita bertanya arah suatu tempat, ketika kita sampai di kota Ube, mereka tidak hanya menunjukkan arah, mereka akan mengantarkan kita hingga ketempat tujuan, dengan penuh senyum dan keramahan. Sungguh sangat berbeda dengan Indonesia. Ternyata negeri yang sudah serba kapitalis, masyarakatnya tidak individualis, sangat ramah, profesional dan memegang erat budaya luhurnya.

Power Engineering & Training Services
Dan hari-hari mereka berlalu dengan sangat seru. Mereka melakukan training di sebuah fasilitas training di kota yang sepi namun indah dan modern. Training center ini adalah bekas Pembangkit listrik Thermal milik Chugoku electric Power Co. Inc yang didedikasikan khusus untuk pelatihan khusus bidang pembangkit sejak 1 April 2002 dengan modal investasi sebesar 288 juta Yen. Training center dengan nama Power Engineering & Training Services, Incorporated (PET) berlokasi di 1-2, Nishioki,
Nishiokinoyama, Ube, Yamaguchi [Dahulu Chugoku Electric Power Co. Thermal Power
Technology Center].

Dan ternyata peserta training saat itu tidak hanya berasal dari Indonesia, terdapat juga peserta dari mexico. Trainer nya adalah 4 orang technical advisor yang sudah senior. Jadwal mereka sangat tepat waktu dan teratur. Pelajaran dimulai tepat jam 08.00 dan berakhir jam 17.00. Semua materi training terlaksana sangat tepat waktu. Uniknya, peralatan peraga yang di gunakan selama training tidak ada yang istimewa, hanya white board, buku panduan, dan form-form laporan pengukuran. Dalam penyampaian training tidak ada yang namanya menggunakan proyektor atau peralatan canggih apapun. Sangat sederhana namun penyampaiannya sangat mudah dipahami, sistematis, tepat sasaran, dan sesuai waktu yang ditentukan. Pelaksanaan training antara inclass dan on-site nya juga sangat pas. Evaluasi yang dilakukan juga sangat mengena.

Salah satu jadwal training yang paling menarik adalah evaluasi. Evaluasi dilakukan setiap sore jam 16.00 hingga jam 17.00. 30 menit pertama dilakukan ujian tulis diberikan 2 sampai 3 soal, membuat laporan dan review tentang kekurangan atau kelebihan dari kegiatan. 30 selanjutnya adalah peserta di beri pertanyaan mengenai seluruh kegiatan hari ini serta mereview apa yang baru saja mereka tulis, sehingga ketidak pahaman peserta akan suatu materi akan diketahui dan hari itu juga pemahaman harus benar-benar tertanam disetiap peserta dengan benar.

5S? 5R? Apa itu? Kami tidak kenal.
Satu lagi yang menarik dari training dengan Mitsubishi Jepang saat itu adalah mengenai 5R atau 5S, yang terkenal selalu diaplikasikan hampir di seluruh perusahaan Indonesia. Dan ternyata bila kita bertanya kepada mereka, baik teknisi, engineer atau siapapun mereka tidak mendengar istilah 5S apalagi 5R. Tidak ada satu pun slogan atau tulisan – tulisan yang ada kaitannya dengan 5S. Kenapa bisa begitu?. Negara asal dari 5S, ternyata tidak mengenal 5S?.

Terjadi beberapa kali kejadian yang ringan tapi menjadi catatan unik yang ada kaitannya dengan 5S. Salah satu kejadian, ketika tiba-tiba ada petugas dari fasilitas training melaporkan ditemukannya botol minuman yang dimasukkan ke dalam tempat sampah kertas. Dan ternyata sampah tersebut berasal dari salah satu peserta, dan ternyata itu menjadi masalah yang cukup serius. Karena ternyata, satu sampah yang berbeda akan menjadi delay dalam pemrosesan daur ulang sampah. Karena dengan membuang sampah sampah sesuai jenisnya, akan mempercepat proses daur ulang, karena sampah langsung dikirim ketempat pengolahan sesuai jenisnya. Sehingga waktu untuk memilah-milah sampah yang memakan waktu panjang tidak terjadi. Dan memang pengolahan sampah di Jepang adalah yang paling modern dan mahal. Namun dengan begitu kelestarian alam di Jepang sangat terjaga.

Contoh lain, berkaitan denagn 5S, adalah pengelolaan ruang kantin di fasilitas training. Semua prosedurnya tertata seolah sudah didesain sangat tepat dan sudah menjadi tradisi. Prosedurnya hampir mirip dengan ketika kita membeli makanan di restoran cepat saji. Yang berbeda adalah tata letaknya, dimana baris antrian ketika membayar, mengambil makanan dalam satu baki, tempat makan, dan tempat pencucian peralatan disusun secara berurutan. Selain itu yang menarik adalah bila selesai makan, semua peralatan yang sudah diletakkan dalam satu baki harus dibawa ketempat pencucian, kemudian membersihkan sisa makanan yang menempel, dan meletakkan piring sendok dan gelas sesuai tempatnya, untuk selanjutnya dicuci oleh petugas pencuci. Dan tidak lupa mereka wajib untuk saling mengucapkan “terima kasih”.

Memang orang Jepang tidak mengenal istilah 5S, karena ternyata itu sudah menjadi keseharian mereka yang secara otomatis mereka lakukan. Sudah menjadi attitude, perilaku dasar masyarakat Jepang. Tidak hanya di fasilitas training, namun ketika berjalan keliling seluruh sudut Jepang, semua tertata, terstruktur dan bersih. Tidak ada sampah. Bahkan tidak hanya manusianya, pohon-pohon pun seperti enggan menggugurkan daunnya sembarangan. Maka tidak heran sangat jarang, bahkan tidak pernah ditemui petugas kebersihan di sana. Karena ya memang tidak ada yang dibersihkan. Sungai-sungai, drainase, selokan semua bersih dan airnya terlihat tanpa campuran limbah.

On Time
Berikutnya adalah kedisiplinan. Ketepatan waktu sangat penting di Jepang. Karena keterlambatan satu agenda/kegiatan maka akan berakibat tertundanya agenda yang lain. Dan keterlambatan benar-benar sangat tidak bisa di tolelir. Karena keterlambatan satu orang saja dalam proses overhaul atau sebuah meeting akan merugikan semua orang yang terlibat dalam satu tim/perusahaan tersebut. Begitu juga ketika seorang peserta terlambat berkumpul di lobi penginapan untuk berangkat ke tempat training, maka semua agenda training akan tertunda dan merugikan semua pihak baik peserta, traineer, pengelola fasilitas training, bahkan semua pengguna transportasi antar jemput yang berikutnya akan tertunda kegiatannya.

Dan sekali lagi, kedisiplinan tidak hanya wajib di fasilitas training. Di semua aktifitas, fasilitas semua sudut jepang menerapkan on-time. Kendaraan umum mulai dari pesawat, Japan Rail, bahkan bus semuanya on-time. Mereka yang dari Indonesia akan heran kenapa seolah tidak meleset sedetikpun bus yang berjalan melalui rintangan-rintangan kendaraan lain, lampu lalu lintas yang selalu menghadang disetiap perempatan, akan bisa tiba tepat pada waktunya?. Dan memang terbukti, semua transportasi tepat waktu. Sehingga setiap orang bisa dengan mudah bisa merencanakan sebuah perjalanan dengan pasti meskipun menggunakan alat transportasi yang berbeda-beda sesuai yang diinginkan, tanpa takut terlambat.

Open Minded
Bukan open minded yang biasanya. Mereka akhirnya harus kembali ke Indonesia dengan membawa banyak pikiran-pikiran baru. Bukan hanya pelajaran technical yang mereka dapat dari sebuah proses training. Namun terbukanya mata hati dan membuat kembali terjaga. Ternyata ada dunia yang ajaib seperti ini dan seperti bukan di Bumi. Dan Jepang adalah di Bumi, tidak berbeda dengan Indonesia. Namun tata kelola dan budaya masyarakatnya yang berbeda. Indonesia dan Jepang sama-sama terpaksa terlibat dengan sistem kapitalis, namun jepang lebih siap dan memang bisa. Seharusnya Indonesia juga bisa, dimana jaman dahulu Nusantara Indonesia sangat dikenal dengan budi pekertinya yang luhur dan sekarang semakin terlupakan terlindas modernisasi.


Jangan-jangan budaya jepang itu berasal dari Indonesia, yang mereka peroleh ketika datang ke Indonesia?. Ini adalah sebuah langkah awal, sebuah langkah yang baik membuka wawasan. Semoga langkah-langkah selanjutnya akan berubah menjadi sesuatu yang besar, sebuah perubahan menuju Indonesia dan perusahaan menjadi lebih maju, dengan budaya yang luhur sesuai dengan budaya kita. Dengan harapan kita juga berakhir dengan mendunia menancapkan tonggak-tonggak peradaban yang lebih baik di banyak Negara dan bermanfaat bagi Dunia. 

Perjuangan ke Jepang (III) - Surga bagi orang desa

Setelah 7 Jam menembus terowongan angkasa, akhirnya pesawat kami mendarat di sebuah bandara yang sangat modern. Kami tiba disana pagi hari waktu setempat. Yup.. Bandara Internasional Narita. Bandara yang bersih, serba semi automatis dan cukup nyaman. Bahkan buat para backpacker yang nota bene orang klontang klantung pun, bandara ini sangat membuat mereka nyaman bermalam. Bahkan kelak kami juga akan merasakan bagaimana nekadnya nggelandang di bandara Narita ini.

Setelah kami mendarat di bandara Narita, kami beristirahat untuk membeli snack dan minuman. Dan astaga!! Harganya cukup mahal dibandingkan dengan di Indonesia. Sebotol Air minum kecil 300ml seharga 100 yen (sekitar 12000 rupiah). Sedangkan untuk makanan paling murah sejenis bento kecil yang kami peroleh adalah seharga 400 yen (48000 rupiah). Dan harga-harga itu sama dengan harga di luaran pada umumnya. Dan pada umumnya, disimpulkan, setelah dilakukan survey muter-muter bandara, harga-harga di jepang memang jauh lebih mahal dari di Indonesia, 705-400%.

Kami telah benar-benar menginjakkan kaki di dunia yang benar-benar baru. Dan benar-benar sangat berbeda dengan dunia kami yang lama. Ada sangat banyak kelebihannya. Kebersihan, kerapihan, keteraturan dan ketertiban sungguh sangat luar biasa, membuat siapa yang berada disana sangat nyaman. Cuacanya yang tidak terlalu panas membuat orang berpikir tenang dan sabar. Pengemudi tidak tergesa-gesa melajukan kendaraannya, begitu lampu merah selalu tertib berhenti, begitu juga bila ada pejalan kaki melintas dengan sabar juga mereka berhenti. Sangat berbeda dengan di Indonesia. Karena cuaca yang panas membuat beberapa oknum manusia sering mendahulukan keinginannya untuk mendahului orang lain.

Namun dari segala kebaikan negeri Jepang, ternyata juga tidak lepas dari cela. Itu menurut saya. Yang pertama, yang selalu menjadi pikiran saya sejak berada di dalam pesawat, adalah mengenai bagaimana kita sholat. Kami tidak menemui satu buah pun mushola apalagi masjid. Kami terpaksa harus menggelar sajadah atau sholat sambil duduk. Berwudlupun sangat susah harus dari wastafel. Susahnya lagi hampir semua wastafel memakai sensor (tidak manual yang bisa diputar tutup). Dan semua toilet berdiri untuk kencing laki-laki juga memakai sensor movement. Jadi pada umumnya 99% lebih orang-orang Jepang habis pipis tidak cebok. Begitu juga untuk buang air besar, pada umumnya toilet hanya menyediakan tisu disamping toilet.

Kadang saya berfikir, pasti orang Jepang jarang cuci kaki. Itu sah saja karena semua lantai dan semua area memang bersih. Tapi bagi kami yang muslim, sudah tidak ada mushola serta kondisi toilet yang tidak menyediakan pancuran membuat kami harus berfikir mencari solusi. Permasalahan yang pertama, mengenai bersuci dari kencing maupun buang air besar. Kemana-mana kami sudah terbiasa membawa botol minuman, dan botol minuman tersebut kami jadikan juga untuk menampung air untuk bersuci. Dan untuk toilet berdiri dengan sensor gerak, kita bisa mengakali sensor dengan menggerakkan tubuh menjauh sesaat, supaya air bisa keluar. Atau juga dengan mendekatkan jari pada kaca sensor, kemudian menggerakkan jari kekanan dan kekiri, sehingga oleh sensor dideteksi pergerakan tubuh dan air memancar keluar.

Permasalahan kedua, untuk bersholat. Sholat sangat wajib bagi kami. Namun kondisi Jepang membuat kami sangat mensyukuri kondisi di Indonesia yang ternyata meski semrawut, di Indonesia sangat melimpah mushola dan masjid. Dan kami harus menyisihkan rasa malu untuk mendirikan sholat dimanapun. Asal tidak mengganggu mereka. Kami harus belajar cuek untuk berwudlu di toilet dan sholat di tempat umum.


Permasalahan ketiga, masalah yang sangat penting bagi siapapun. Masalah perut. Masalah makanan. Makanan  halal.

CARA MENGINSTAL PCM600 (SOFTWARE UNTUK CONNECT PC DENGAN RELAY PROTEKSI ABB) - PART 3

Assalaamualaikum

Melanjutkan dari PART 2

Selanjutnya setelah PCM 600 siap adalah kita menghubungkan PC dengan relay secara online ataupun hanya melakukan konfigurasu relay secara offline (tanpa terhubung dengan relay)

Caranya adalah sebagai berikut :
1. Buka PCM 600
2. Create new project (pojok kanan atas) seperti pada gambar 1.
Gambar 1. Create new project

3. Akan muncul tampilan seperti gambar 2, lalu klik kanan kita bikin substation baru

Gambar 2. Membuat substation baru.

4. Dari substation dilanjutkan mebuat voltage level, dan Bay,
5. Dari bay kita klik kanan dan kita pasang device yang kita inginkan (seperti gambar 3.)
Gambar 3. memasang device baru
6. Selanjutnya akan muncul pop up windows, bila kita sudah terkoneksi dengan relay terkai kita bisa pilih online configuration, namun bila belum terkoneksi maka pilih offline configuration.

Gambar 4. Pilihan konfigurasi

7. Untuk pilihan selanjutnya akan ada pop up lanjutan untuk mengisi spesifikasi dan kondisi yang nda harus mengetahui seperti  ip adress dan pc anda harus disetting dengan gateway dan ip yang sesuai dengan relay, selain itu anda terkoneksi dari front port atau dari network dll. 

8. Untuk selanjutnya anda bisa mengembangkan fungsi dari PCM600 sesuka anda, terdapat banyak tutorial di youtube yang bisa anda gunakan sebagai tuntunan dalam parktik. (kata kunci PCM600)

Demikian tutorial mengenai cara menginstal PCM 600, semoga bermanfaat dan mohon feed back bagi yang sudah mengaplikasikan. 

Terima kasih, wassalaamualaikum





CARA MENGINSTAL PCM600 (SOFTWARE UNTUK CONNECT PC DENGAN RELAY PROTEKSI ABB) - PART. 2

Melanjutkan penggunaan PCM 600 dari PART-1.

Setelah menginstal PCM600 maka anda akan mendapatkan icon pada desktop anda

Gambar 1. Icon PCM 600 dan Update Manager

Proses selanjutnya adalah mendownload connectivity package relay terkait dengan menggunakan update manager. Kenapa harus medownload connectivity package, karena anda belum bisa terhubung dengan relay terkait sebelum anda menginstal connectivity package, connectivity package analoginya sebagai driver/penerjemah anatara pc dengan relay ABB.

Setelah anda mendownload mendownload dan menginstall connectivity package maka nantinya anda akan memiliki tampilan PCM600 seperti gambar 2.

Gambar 2. Tampilan connectivity package yang tersedia/sudah terinstal pada PCM600

Berikut adalah cara menginstal connectivity package :
1. Buka update manager (klik icon update manager pada desktop)
2. Pilih setting dan uncentang semua opsi, serta pastikan proxy sudah sesuai dengan internet anda (bila menggunakan proxy dari kantor, dan pastikan anda sudah koneksi internet anda sudah oke), tampilan seperti gambar 3.

Gambar 3. Uncentang pilihan yang dilingkar biru, dan isikan proxy bila internet anda menggunakan proxy

3. Kemudian pilih Get connectivity Package maka anda akan mendapatkan tampilan seperti gambar4. Lalu pilih package yang sesuai dengan relay anda, misalkan pada contoh kita pilih REG 670

Gambar 4. Pilih connectivity package yang sesuai dan download

4. Kemudian akan muncul pop up windows dan pilih accepted (gambar 5), dan biarkan proses download dan installing berjalan hingga selesai (gambar 6)

Gambar 5.

Gambar 6. Setelah selesai ada tulisan complete (pojok kiri bawah dan installed pada REG 670)

5. Anda juga bisa mendownload berbagai tambahan lain yang mungkin berguna dengan mencentang kembali pilihan pada setting, sesuai kebutuhan/sesuai dengan setting yang sudah ada pada relay terpasang. (centang kembali pada pilihan yang di gambar 3)
6. Maka akan muncul opsional tambahan, yang mungkin diperlukan untuk terhubung dengan relay terpasang.

Gambar 7. Beberapa optional lain yang perlu didownload dan di instal

7. Setelah selesai semua maka pada PCM 600 anda pada kolom sebelah kiri (object types) akan muncul beberapa relay yang sudah terinstal. Seperti pada gambar 2.


Bersambung ke PART 3















CARA MENGINSTAL PCM600 (SOFTWARE UNTUK CONNECT PC DENGAN RELAY PROTEKSI ABB) - PART. 1

PCM 600 adalah software yang dibuat ABB untuk mempermudah user dalam mengkonfigurasi maupun mengembangkan fungsi dari relay-relay produk dari ABB. Kelebihan PCM 600 yang terinstal pada PC adalah bisa mengakses relay dari jaringan/internet maupun secara langsung dari relay menggunakan direct port yang ada di depan relay proteksi terkait

Gambar 1. Contoh relay ABB REG670

Berikut adalah penampakan software PCM 600 yang sudah terinstal pada PC

Gambar 2. PCM600 sudah terinstal pada PC


Syarat PC yang bisa digunakan untuk diinstal PCM600 adalah sebagai berikut :
1. Menggunakan windows (rekomendasi windows 7)
2. Terdapat port ethernet
3. Terhubung dengan internet, karena file software sudah tersedia di link ABB

Cara menginstall PCM 600 adalah sebagai berikut :
1. Buka browser anda dan buka google.com
2. search; download pcm600, dan tunggu sesaat bila internet anda cepat, maka akan muncul banyak link akan muncul.
3. Pilihlah link ini http://new.abb.com/substation-automation/products/software-and-tools/pcm600
4. Scroll kebawah dan anda akan menemukan penampakan berikut : dan klik software library download

Gambar 3. Terdapat link untuk download software pcm600

5. Maka anda akan dibawa menuju link login hehe... (anda harus register dulu, untuk bisa login)
6. Lakukan login menggunakan username dan password yang sudah anda dapatkan
7. Bila login anda berhasil, anda akan dibawa ke tempat penuh software, sbb :

Gambar 4. Link Software library

8. Kemudian klik PCM 600 Installation package untuk mendapatkan link download setelah anda meng klik request file (seperti ditunjukkan pada gambar 5)

Gambar 5. Link request file pcm600
9. Buka email yang anda pakai untuk login ke ABB, dan anda akan mendapatkan email dari ABB seperti berikut : 

Gambar 6. Email dari ABB untuk link download software PCM 600

link milik saya :https://www143.abb.com/SoftwareLibrary/Library/DownloadFile/16095BB2-BFE4-E511-BAD5-005056B123CF 

10. And than... anda bisa melakukan copy link dan paste di browser anda. Dan file akan terdownload (seperti penampakan pada Gambar 7)

11. Setelah download selesai dan kemudian file hasil download bisa anda install, seperti pada software pada umumnya. 


Gambar 7. Penampakan download dan file yang sudah di download (kebetulan saya sudah download PCM 600-2.6)


Dari web ABB tersebut anda juga bisa mengeksplor berbagai isinya, termasuk manual book yang cukup lengkap.

Bersambung ke part-2









Minggu, 07 Desember 2014

Perjuangan ke Jepang (II) - Pintu Gerbang Dunia Lain


Masih di Sabtu malam, tanggal 07 September 2013.

Kami ber 15 membuat sebuah forum chatting untuk agenda kali ini. Ide forum chatting ini muncul ketika kami harus berkomunikasi secara bersama sedangkan kami tidak selalu bersama. Forum chatting ini cukup bermanfaat sejak jauh hari kami sebelum berangkat hingga bahkan setelah selesai dari Jepang. Forum ini menjadi tempat yang seru dan bermanfaat. Dari sekedar info nilai yen terhadap rupiah. Maupun janjian kapan kita datang ke kantor bersama, atau bahkan terkadang banyak bercanda di dalamnya. Nama forum chatting tersebut kami namakan "Perjuangan ke Jepang".

Perjuangan ke Jepang menjadi salah satu niat yang saya tanamkan dalam diri saya. Karena ini bukan jalan-jalan atau bertamasya. Perjalanan ini adalah perjuangan, perjuangan untuk menjadi diri kami lebih baik, lebih maju dan semakin bermanfaat. Bermanfaat bagi siapa?. Bermanfaat bagi diri kami, keluarga kami, teman-teman kami, terutama perusahaan kami dan negara kami, Indonesia. Kami mengerti bahwa perusahaan telah mendukung kami, dan kami sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk hal teknis maupun non-teknis. Persiapan-persiapan sudah kami laksanakan. Sekarang perjuangan yang sebenarnya baru akan kita mulai.

Pukul 20.30, Kami sudah mendapatkan panggilan untuk boarding, memasuki pesawat. Penerbangan kami adalah NH0938 - Jakarta - Narita - Jepang. Mulai dari kegiatan boarding ini terasa berbeda dari budaya Indonesia. Begitu sangat tertib dan berdedikasi. Pertama, petugas boarding memanggil penumpang yang lanjut usia atau cacat. Kakek-kakek dan nenek-nenek dipersilakan masuk. Setelah beberapa saat tidak ada lagi penumpang usia lanjut, petugas memanggil penumpang kelas bisnis. Menariknya, penumpang tidak ada yang bergerombol mendekati para petugas boarding. Padahal biasanya di penerbangan lokal para penumpang selalu bergerombol agak tidak tertib berebut masuk melalui pintu untuk boarding. Ini sangat berbeda. Meskipun masih di Indonesia, namun suasana tertib dan berdedikasi sangat terasa.

Selanjutnya adalah giliran kelas ekonomi. Kelas ekonomipun ternyata disusun secara tertib. Penumpang dengan nomor duduk paling belakang di persilakan masuk terlebih dahulu dan disusul dengan nomor duduk didepannya secara berurutan. Sangat menarik. Begitu seterusnya hingga giliran kami masuk secara mengantri dan tertib.

Kami berjalan melalui lorong ber-AC dan berlampu terang, Garba Rata. Serasa memasuki lorong menuju ke alam yang lain, dunia yang sangat berbeda dari Bumi yang ku pijak sebelumnya. Orang-orang yang memasuki pesawat kali ini adalah orang-orang yang berbeda dari ketika penerbangan lokal. Lebih banyak orang berkebangsaan Jepang dan beberapa orang Indonesia. Kami berjalan hingga akhirnya kami memasuki pintu pesawat dengan disambut senyum awak kabin, Pramugari. Senyum mereka sangat ramah dan terasa tulus. Meski wajah mereka bagi saya sangat aneh, wajahnya tidak cantik, tetapi wajah mereka bersih senyumnykhas jepang dan sangat rapi.

Berada di dalam pesawat jumbo adalah pngalaman pertama bagi saya. Susunan tempat duduknya 2 - 3 - 2. Di masing masing tempat duduk selain seat belt terdapat bantal, selimut dan headset. Begitu duduk didepan kami terdapat monitor layar sentuh yang bisa menjadi mainan bagi kami selama perjalanan nantinya. Bawaan kabin yang tas ransel saya taruh di bagasi diatas tempat duduk, sementara tas pinggang tetap saya bawa. Karena isi tas pinggang berisi benda-benda yang sering diperlukan meskipun didalam pesawat. Misalnya, ketika di dalam pesawat juga disarankan untuk mengisi dokumen imigrasi, supaya nanti waktu mendarat sudah tidak repot mengisi. Nah isian dokumen tersebut juga memerlukan data dari paspor.

Perjalanan udara yang akan ditempuh selama 7 jam akan segera dimulai. Monitor yang berada di depan saya menyala otomatis. Tampak juga di depan atas disamping bagasi kabin terdapat beberapa layar LCD yang membuka secara otomatis. Layar-layar elektrnik tersebut kompak menampilkan safety guidance selama penerbangan.Video berdurasi sekitar 10 menit itu sangat jelas dan mudah dimengerti bagi siapapun meskipun tidak mengerti bahasa yang diucapkan.

Tepat waktu, pesawat mulai berlari dilandasan pacunya dan hingga membawa kami terbang keangkasa. Menariknya take off kali ini kami bisa melihat pandangan dari hidung pesawat melalui layar LCD. Seolah olah kami berada di dalam kockpit. Setelah melaui satu jam penerbangan, kami mendapatkan makan malam, makanan khas jepang. Makanan pertama bagi saya yang benar-benar selera Jepang. Rasanya segar dengan sedikit bumbu.

Menjelang jam ke dua, kami mulai merasakan bosan. Kami juga mengantuk namun posisi duduk dan lelah membuat kami tidak bisa tidur dengan nyenyak. Beberapa kali saya mnyalakan LCD untuk menonton film yang cukup up to date, tapi mata terasa pedih untuk memandangi LCD terlalu lama. Akhirnya cukup galau mata dan tubuh miring ke kanan dan ke kiri selama malam terbang. Sesekali, mata saya memandang keluar jendela. Namun yang saya dapati hanya kegelapan malam. Perjalanan ini seperti melewati terowongan yang sangat panjang untuk memasuki dunia yang lain.

Rabu, 25 September 2013

Perjuangan ke Jepang (1) - Masih Indonesia


Persiapan ke Jepang

Sebelum keberangkatan kami (15 orang, 10 dari PJB dan 5 dari PJBS) disibukkan dengan berbagai acara. Mulai dari sibuknya pembekalan mechanical serta bahasa Inggris. Kemudian mempersiapkan paspor dan visa yang harus kita siapkan dari Nol. Serta acara acara yang sifatnya formal seperti pengarahan-pengarahan dan motivasi dari Big Bos-Big Bos. Dan yang paling membuat itu semua menjadi ribet (terutama yang saya alami) karena saya masih terlibat dalam project tertentu sejak awal dan tidak berada di kantor pusat. Pada saat itu saya masih terlibat dalam proyek Simple Inspection PLTU Unit 3 TJB yang saya terlibat cukup dalam karena memang memulai dari awal.

Apasih tujuan kami ke Jepang?. Tujuan kami ke Jepang yang pertama adalah penugasan oleh perusahaan untuk mengikuti training yang juga termasuk ujian untuk menjadi Technical Advisor untuk Perusahaan Mitsubishi dalam bidang keahlian Steam Turbine. Tujuan perusahaan adalah menjadi pioneer dalam kerjasama internasional yang akan membuat perusahaan kami semakin Go Internasional.

Untuk menembus menjadi 1 peserta, kami harus melalui beberapa tahap ujian seleksi dari perusahaan:
  1. Tes tulis kemampuan teknis dan bahasa inggris
  2. Kemampuan presentasi dalam bahasa inggris
  3. Wawancara dalam bentuk presentasi

Apa kebutuhan yang diperlukan:
  1. Persiapan pengetahuan mengenai Mechanical khususnya Steam Turbine, ini sangat penting, karena basic saya adalah electrical
  2. Persiapan kemampuan berbahasa inggris
  3. Persiapan non teknis (SPPD, paspor, visa dan dokumen lain)

Hingga hari akhir, Jumat 06 September 2013, kebutuhan yang sangat penting dari Nomor 3 belum juga selesai. Kami cukup galau karena kami masih perlu menukar uang yen juga. Dan uang dari kantor mencair mendekati sore hari di hari terakhir. Dan akhirnya kami mendapatkan yen dengan harga mahal 1 yen=120 rupiah.

Surabaya-Jakarta

Hari itu adalah hari sabtu tanggal 07 September 2013.
Saya jam 06.00 dari Kediri sudah siap-siap berangkat. Namun beberapa hal membuat sedikit tertunda, karena ketakutan saya akan harga pangan dan biaya hidup disana yang terkenal mahal. Ibu membuatkan saya kering tempe sejak pagi buta dan jam 06.00 pagi belum selesai. Akhirnya batal yang saya bawa dengan tergesa bukan kering tempe, namun tempe kering goreng. Saya juga segera meluncur ke pasar. Yah... Berburu mie gelas, mie yang paling praktis karena cukup diseduh dengan air panas. Dan gagal... yang saya peroleh adalah telur asin sebanyak 10 buah masih panas dan susu instan. Agak grogi juga takut ketinggalan pesawat, saya masih harus berpamitan dengan mertua. Saya diantar istri dan anak sedikit agak ngebut dari biasanya. Alhamdulillaah semua selesai sebelum jam tujuh. Dan saya berangkat dengan bus ke Surabaya sekitar jam 07.00.

Diperjalanan saya masih berburu mie gelas, saya calling teman-teman yang ada di Surabaya. Saya minta tolong mas Arif yang juga kebetulan lagi berburu mie Gelas. Singkat cerita saya sampai di Bandara pukul 10.30 tepat. Sangat beruntung tidak terlambat karena macet. Dan disana sudah menunggu teman kami Angga, Pak Winanto, Pak Jupriyadi, Indra, Mas Nasruddin dan Hafids. Tak lupa juga hadir satu-satunya wanita, Shifa yang akan mengantar kami sampai Jakarta. Sementara teman saya yang saya titipi mie gelas, Mas Arif belum datang. Begitu juga teman kami yang lain, Pak Suandiarto, Mas Anwar Hamidi, Pak Dwi belum juga datang.

Tepat jam sebelas kami memutuskan untuk check in. Karena pesawat kami boarding jam 11.25. Waktu itu kami menggunakan pesawat citilink. Ternyata prediksi kami tepat, waktu untuk check in sudah mau habis dan teman-teman kami yang lain tidak bisa melakukan check in. Dan dengan agak kacau karena harus berkomunikasi dengan teman yang terlambat, akhirnya tiket mereka tetap tidak bisa tertolong. Dan akhirnya  singkat cerita kami hanya terbang bertujuh. Sedang teman kami yang empat tiketnya hangus dan harus mencari tiket di penerbangan berikutnya.

Menjadi tidak ada yang istimewa dalam penerbangan Surabaya-Jakarta kali ini. Karena teman kami empat tidak bisa ikut terbang karena keterlambatan mereka yang menjadi bumerang bagi meraka dan juga kami. Citilink, maskapai yang tepat waktu, kami sangat respect padanya. Kedepannya, tepat waktu adalah salah satu point penting bagi kami bahwa terlambat akan merugikan diri sendiri dan orang lain.

Jakarta (Sukarno-Hatta)

Di Jakarta kami bertemu dengan Maliza yang membantu kami sejak awal, serta di mensupport kami membawakan barang-barang kami dari Terminal 1 Sukarno-Hatta menuju Terminal 2 International Sukarno-Hatta. Kami menunggu penerbangan berikutnya ke Tokyo Jepang jam 21.00. Teman-teman kami dari PJB Jakarta satu persatu juga mulai datang Mas Wahyu, Mas Gancis, Mas Fajar. Selain itu temen-temen dari Surabaya akhirnya mendapatkan penerbangan jam 15.00 yang akan bersamaan dengan kedatangan Ibu May yang akan menemani kami hingga seminggu di Jepang.

Hingga akhirnya menjelang Magrib jam 17.00 kami segera memutuskan check in, dan menunggu didalam ruang tunggu yang lebih nyaman. Ini adalah penerbangan internasional perdana saya. Kami menggunakan maskapai ANA (All Nippon Airways) Kelas Ekonomi. Kesan pertama ketika check in di maskapai ini agak berbeda dengan check in biasanya. Ada pembatas antrian yang lebih jelas dengan menggunakan tali pembatas. Tidak seperti check in pada penerbangan lokal. Antrian lebih tertib dan lebih berdedikasi. Dan hal ini ternyata menjadi salah satu pembeda mencolok kelak setelah kami tiba di Jepang. Cara mengantri pada check in sangat enak dan tertib.

Jadi dalam satu area check in ada beberapa tempat/ pos/ loket check in (di beberapa bandara seperti Narita untuk bagasi  ada loket-loket khusus antrean bagasi, sedangkan check in dilakukan secara elektronik oleh penumpang di komputer-komputer yang tersedia). Kami mengantri mengular berbelok belok mengikuti tali batas antrian. Antrian berhenti hingga di ujung dua tali pembatas. 2 meter dari antrian berjajar loket-loket untuk check in. Bila ada loket check in yang kosong maka pegawai di loket tersebut akan menyapa pengantri dengan sopan dan menunduk khas Jepang. Dan satu pengantri maju menuju loket yang kosong. Begitu seterusnya.

Agak lama harus mengantri, namun lebih terasa tertibnya dan lancarnya. Akhirnya giliranku untuk maju. Saya meletakkan barang bagasi di timbangan di samping loket. Saya diminta menunjukkan paspor dan tiket. Saya di tanyai beberapa pertanyaan mengenai bawaan bagasi, dia menunjukkan tabel barang-barang yang perlu perhatian khusus maupun dilarang masuk dalam bagasi. Dan saya menyampaikan tidak ada barang khusus maupun terlarang. Dan proses check in pun berjalan lancar, Saya perlu membayar 150 ribu rupiah untuk tax airport khusus di Sukarno-Hatta. Saya dikasih tiket dan Nomor bagasi (Lugage bahasa Inggrisnya).

Saya dalam perjalanan ke Jepang tidak membawa banyak barang, dan itu memang yang terbaik dan pas.  Antara lain:
  1. Tas ransel besar:
  1. 1 Kaos ( berkerah)
  2. 2 Kaos untuk bekerja
  3. 2 Wear Pack untuk bekerja
  4. 2 Celana Dalam
  5. Sarung bisa untuk sajadah
  6. Peralatan mandi, sikat, odol, kanebo, shampo botol kecil
  7. Sepatu jalan-jalan semi formal
  8. 2 plastik Tempe Kering goreng
  9. 10 Telur Asin
  10. 2 kotak kecil susu dancow bubuk
  11. 5 saset kopi onstan
  12. Obat-obatan  : mixagrip, antangin, enervon C, Propolis
  13. Kunci gembok kecil untuk ransel
  14. Sepasang Kaos Kaki


  1. Tas Ransel dibawa ke kabin
  1. Laptop (saya bawa Netbook) dan accessories
  2. Surat dokter, dan dokumen lain selain passport
  3. 220.000 Uang Yen,
  4. Dompet berisi rupiah, KTP dan ATM sementara diistirahatkan dalam ransel
  5. Alat tulis: Note kecil, bolpoint
  6. Badge perusahaan
  7. Beberapa tas kresek, tisue, isolasi lakban untuk proteksi tas ransel
  8. Hand Gift untuk orang jepang, saya bawa Sarung tiga buah
  9. Sisa ruang untuk snack dan botol minum

  1. Tas Pinggang
  1. Passport
  2. Tiket
  3. Beberapa lembar uang yen
  4. Handphone
  5. Charger
  6. Kunci Gembok Ransel
  7. Head set

  1. Melekat dibadan
  1. Kaos
  2. Hem
  3. Sepatu safety
  4. Jaket
  5. Kaos kaki
  6. Celana dalam
  7. Celana pendek

Bagasi saya ditimbang hanya 12 kg (Ketika pulang hanya 15 kg). Berbeda dengan teman-teman untuk barang bagasi saja rata-rata mendekati batas maksimum 20 kg. Mungkin terlalu banyak pakaian yang mereka bawa. Bagi saya membawa barang yang seminimal mungkin dan sesuai kebutuhan sudah cukup. Pakaian bisa bergantian kita cuci. Pertimbangan lain membawa nemda sesedikit mungkin adalah nanti ketika pulang masih punya space banyak untuk membawa oleh-oleh.

Membawa bahan makanan yang awet cukup menghemat pengeluaran sarapan pagi dan makan malam saya di Jepang. Setiap kali makan rata-rata 400 yen (50 ribu rupiah). Untuk sarapan saya cukup membeli nasi instan yang hanya 128 yen (15 ribu rupiah) berlauk tempe kering, segelas susu, dan pisang. Buah pisang paling murah di Jepang, Empat buah pisang seharga 100 yen (12 ribu rupiah), bisa untuk dua hari.

Namun meskipun persiapan saya sudah matang, ada satu benda yang tertinggal lupa saya bawa. Ikat pinggang. Tapi tidak menjadi masalah. Yang sedikit kedodoran bagi saya hanya celana wear pack, dan saya akali dengan mengikat dua lubang sabuk celana dengan tali. Beres deh.

Oke, Setelah selesai check in, kami masuk keruang berikutnya. Keruang imigrasi, kami disana mengantri. Passport kami distempel di halaman Visa. Dan selanjutnya kami bebas masuk ruang International, didalamnya terdapat lounge, warung makan, toko oleh-oleh, toilet, mushola dll. Disana kami sholat dan makan. Selanjutnya kami masuk ruang tunggu, kami harus melewati scanner pemeriksaan sekali lagi. Sepatu safety saya menjadi kesalahan. Saya harus lepas sepatu safety, jaket dan laptop dikeluarkan dari ransel. Tapi overall lancar. Oiya jangan lupa botol air minum yang berada di dalam ransel dan di scanner harus kosong untuk lolos dari sini atau anda harus membuangnya atau meminumnya disitu juga seperti teman saya. Namun ada teman yang lolos dengan memasukkan botol airnya kedalam saku celananya sehingga lolos dari deteksi metal.

Begitulah kami berada di ruang tunggu pukul sekitar 19.00. Dan kami masih bisa santai menunggu penerbangan hingga pukul 21.00 dengan tenang.