Rabu, 22 Mei 2013

Sabar (Part 2)


Kesabaran adalah suatu yang sangat berat. Saat bersabar dari suatu kejadian, kejadian itu akan membekas hingga tua. Perasaan untuk mengikhlaskan suatu kejadian sangat berat dilupakan. Kaitan dengan kesabaran sangat erat dengan pendzaliman. Saat seseorang di dzalimi dan dia tidak bisa berbuat apa-apa, maka dia harus bersabar. Dalam perjalanan hidup hampir semua orang pernah didzalimi oleh orang lain. Pada umumnya akan meninggalkan bekas luka yang mendalam dalam hati. Ketidak ikhlasan yang membekas hingga tua. Apakah seperti itu, mereka sudah bersabar?. Kesabaran kita seharusnya memang tidak ada habisnya.

Berkaitan dengan pertanyaan mas Fauzi, ditulisan saya yang berjudul "Sejengkal Tanah". Juga berkaitan dengan kesabaran. Ketika hak kita direbut oleh orang lain, ada pilihan memerangi atau bersabar. Apa yang kita pilih?. Harus kita pertimbangkan baik dan buruk dari tindakan yang kita ambil.

Beberapa kejadian memang saya memilih merelakan hak saya di ambil orang, dengan niat bersabar karena Tuhan, karena semua yang ada di dunia ini milik Tuhan. Tentu saja ini tidak mudah. Perasaan tidak Ikhlas dan merasa didzalimi akan terus membekas dalam ingatan.

Seperti dalam cerita Sejengkal Tanah. Setelah Bapak S meninggal, saya merasa iba dengan keluarga beliau yang dalam kondisi ekonomi lemah. Dia meninggalkan seorang istri dan seorang anak. Maka setelah sepeninggal Bapak S, pepaya yang di tanam beliau tidak saya pangkas semuanya. Saya biarkan tetap berbuah untuk pohon pepaya yang sehat. Sedangkan yang tampak tidak berbuah dan tidak sehat saya pangkas. Semoga tindakan yang saya lakukan saling menguntungkan dan tidak merugikan siapapun.

Jadi pertimbangannya sebagai berikut:
  1. Pohon pepaya bisa tetap memberi manfaat orang lain, istri bapak S.
  2. Menjaga hubungan baik antara saya dan keluarga Bapak S, yang kelak akan menjadi tetangga saya.
  3. Di antara tanaman pepaya saya tanami tebu, untuk bibit kelak di tanam di sawah kami.

Dan setelah kami aplikasikan tindakan tersebut. Hubungan kami dengan keluarga almarhum bapak S tetap baik. Beberapa kali panen pepaya kita juga mendapat manfaat. Bahkan panen daun pepaya 10 ribu rupiah, oleh keluaraga bapak S uang tersebut juga diantar kepada kami. Sementara tanaman tebu yang kami tanam diantara pohon pepaya tetap bisa tumbuh dengan baik. Alhamdulillaah.

Sabar (Part 1)


Matahari masih sangat cerah. Komposisi sinarnya dengan sangat tepat menyinari pohon jambu berbiji merah di halaman depan sebuah rumah. Pohon jambu itu sangat menjadi favorit penghuninya. Rasa buahnya yang manis dan dagingnya yang terasa gurih segar membuat setiap jambu tidak bertahan lama bergelantungan di dahannya. Kulitnya yang hijau dan sedikit kekuningan ketika sudah masak membuat jambu akan samar tersembunyi diantara daun-daun hijau dan tua kekuningan.

Tampak dibawah pohon seorang anak pemilik rumah berumur 7 tahun berbadan kurus dan berkulit coklat gelap. Sebuah genter (bambu untuk meraih jambu) dari bambu kering kecil dan panjang ada digenggamannya. Dia meneliti kesemua bagian dahan pohon jambu untuk menemukan jambu yang layak untuk dia raih. Tampak dari mata anak itu akhirnya berhenti di dua tempat. Dia hanya menemukan dua buah jambu di dahan yang berbeda. Satu jambu berwarna hijau tua, sudah layak untuk dimakan dan posisinya berada didahan yang rendah dan mudah dijangkau dengan genter di genggamannya. Jambu ke dua berwarna kuning keemasan sempurna dan sangat siap untuk dinikmati. Namun jambu ke dua berada didahan yang lebih tinggi tidak terjangkau dengan genternya. Dia perlu melompat lompat untuk mendapatkan jambu ke dua.

Kedua jambu itu laksana cita-cita bagi anak itu. Dia berjanji dalam hati "akan ku raih jambuku hingga nafas penghabisan". Hingga tersirat dalam pandangan matanya "Jambu kuning keemasan dan hijau tua, tunggu kedatanganku".

Kemudian anak itu berencana untuk mendapatkan jambu pertama yang hijau tua, karena pertimbangan lebih mudah. Dengan susah payah dia mendirikan genter bambu tersebut dengan kedua tangan. Ujung genter ditahan dengan satu kakinya supaya mudah diberdirikan.

Ketika itu, datanglah tamu, dua orang dan satu anak umru 5 tahun. Mereka mengendarai satu sepeda motor tua merk yamaha memasuki halaman rumah. Tampaknya, yang berada disepeda motor paling depan dan memegang kemudi adalah Bapak dari anak yang duduk ditengah. Dan ibunya duduk dipaling belakang. Sang ibu turun dan segera bertamu masuk kedalam rumah. Sedangkan Bapak dan anak pengendara sepeda menunggu dihalaman, tepat tiga meter dari anak pemilik rumah yang sedang menggapai jambunya.

Anak pemilik rumah masih sedang bersusah payah mengambil jambu pertama dengan genternya. Beberapa kali genter itu disodokkan pada jambu hijau tua, namun jambu tua masih enggan jatuh dari dahannya. Sementara bapak bersepeda tua terpaksa menatap keatas melihat apa yang sedang diraih anak pemilik rumah. Si Bapak melihat jambu tua sedang diincar oleh genter. Kemudian dia menggeser matanya kedahan lain melihat beberapa jambu yang muda. Melihat beberapa jambu yang masih "pentil". Dan, ketika menggeser penglihatannya agak kedahan yang lebih tinggi dia menemukan "emas". Jambu keemasan yang agak tersembunyi di balik daun-daun yang ikut menguning. Tentu saja emas itu adalah jambu kedua yang sudah diincar lebih dahulu anak pemilik rumah.

Si Bapak terpesona dengan keemasan jambu tersebut. Lalu dia melihat anaknya yang kurus berada dibelakang punggungnya. Anak tersayangnya. Seketika, Dalam pikiran si bapak "aku ingin memberikan yang terbaik untuk anakku. Apapun akan kulakukan untuk anakku". " Termasuk jambu keemasan itu akan kudapatkan untuk anakku". "Jambu keemasan cita-citaku untuk anakku".

Akhirnya...tidak berpikir panjang..
Si Bapak turun dari sepeda dan mendekati anak pemilik rumah
"Nak, mana saya bantu ambilkan jambu itu untukmu" Kata si bapak sambil meraih genter yang sedang dipegang anak pemilik rumah. Dengan maksud si bapak ingin mengambilkan jambu pertama yang berwarna hijau tua untuk si anak pemilik rumah.
"em...." si anak pemilik rumah terdiam melongo tidak sempat berkata-kata melepaskan genter yang dipegangnya, karena gerakan si bapak yang cukup kuat dan cepat mengambil alih genter yang dipegangnya.

"Craaak! Sreek........ Bruk!" Hanya sekali sentak genter dari si bapak,  jambu hijau tua incaran pertama si anak pemilik rumah terjatuh ditanah.

"Nak itu jambumu... Ambillah" kata si bapak memandang si anak pemilik rumah.
Sejurus kemudian si bapak kembali mendongakkan kepalanya ke atas.
" Sekarang aku akan mengambil jambu yang lain, untuk anakku" Kata si bapak  siap mengincar jambu yang lain, yaitu jambu keemasan. Tanpa memperhatikan raut muka si anak pemilik rumah.
Si anak pemilik rumah menyadari bahwa si bapak akan mengambil jambu keemasan yang sudah diincarnya untuk anaknya. Jambu keemasan cita-citanya. Detak jantungnya berdenyut terasa lebih cepat dari pada ketika melompat meraih jambu yang pertama. Ada perasaan tidak rela jambu keemasannya di ambil orang lain. Si anak merasa tidak kuasa untuk berkata-kata. Raut muka si bapak yang tua dan berwajah seram itu membuat mulutnya kaku untuk mengatakan kegelisahan. Si anak pemilik rumah diam tak berdaya. Hanya diam.

"Craaak! Sreek........ Bruk!" Tidak lama jambu keemasan sudah jatuh di tanah, diambil oleh si bapak tua, dan di berikan kepada anaknya yang sudah menunggu di atas sepeda motor tuanya.

Si anak pemilik rumah masih terdiam, menggenggam jambu hijau tua. Hatinya remuk redam. Jambu keemasan yang menjadi cita-citanya telah dirampas oleh orang lain. Dia merasa terdzalimi. Tanpa permisi si bapak tua jelek merebut jambu keemasan miliknya. Jambu hijau tua diterkam dengan kuat oleh jari-jarinya. Tampak di kedua matanya marah, tidak ikhlas jambu keemasannya telah direbut orang lain. Jambu keemasan itu seharusnya menjadi miliknya.

"Itu jambu saya!" teriaknya....sambil menunjuk jambu keemasan yang sudah berada di ujung ujung mulut anak si bapak bersepeda tua.
Si bapak dan anak hanya terdiam, melongo. Apa mungkin dia tidak sadar telah menyakiti hati si anak pemilik rumah?.
Si bapak itu terdiam dan tersenyum tidak merasa bersalah. Sementara anaknya tetap melanjutkan memasukkan jambu keemasan masuk kedalam mulutnya. Dan digigitnya.

Si anak pemilik rumah matanya semakin memerah. Dan tiba-tiba....
Si anak pemilik rumah itu berlari....
Tapi bukan mendekat dan melampiaskan kemarahannya ke pada si bapak dan anak di atas sepeda tuanya...
Dia berlari menjauhi sambil menangis..... Dia menangis berlari masuk kedalam rumah....
Dalam hatinya "aku tidak ikhlas...". Namun dibalik ketidak ikhlasan itu si anak tetap bersabar tidak akan melampiaskan kekesalannya karena akan merugikan dirinya sendiri.

Rabu, 24 April 2013

Memulai Senin 22 April 13 (Part2)


Bila menghadapai suatu masalah yang rumit, biasanya... umumnya... terutama saya... mengubah masalah rumit tersebut menjadi sesederhana mungkin. Seperti ungkapan kerennya Gus Dur "Gitu aja kok repot...". Yup membuat sesuatu yang rumit menjadi hal yang sederhana.

Em... Tapi apasih masalah?. Dalam lingkup kehidupan, selain pengertian masalah pada umumnya, masalah adalah mencakup semua pertanyaan yang ada dalam setiap manusia. Setiap pertanyaan yang perlu ada jawaban. Sesuatu yang tidak kita ketahui dan ingin kita ketahui, juga adalah masalah. Ya...Masalah. Mungkin berasal dari bahasa Arab, Masya-Alloh, serius...! makna versiku artinya sesuatu yang masih berada diluar kemampuan kita, yang belum terjawab.

Em...Oke! Kembali ke masalah. Bagaimana menyederhanakan suatu masalah rumit?. Tidak perlu masalah rumit yang perlu disederhanakan. Coba kita ambil contoh, masalah rumit yang sederhana ini (rumit tapi sederhana?). Yup.. contohnya: kalau anak kita yang masih batita bertanya "Ayah, itu apa?". Kita pastinya mencoba menjawab secara sederhana supaya anak kita paham. Menjawab dari warnanya, fungsinya, rasanya... sesederhana mungkin. Itulah, yang rumit disederhanakan. Ingat waktu sekolah?. Didalam pelajaran Matematika, Fisika semua permasalahan disederhanakan menjadi hanya sebuah angka atau sebuah variable.

Biasanya masalah rumit, akan semakin rumit bila dibatasi oleh waktu. Kemudian semakin rumit juga bila masalah tersebut menentukan sesuatu hal yang sangat penting. Dan akhirnya tersebutlah masalah penting. Nah... Itulah, mengubah masalah yang penting menjadi tidak penting. Tujuannya apa?. Sederhana, supaya kita bisa tertidur dengan pulas memeluk istri ketika sudah malam.

Yup... Menyederhanakan masalah rumit.

Bagaimana kalau kita balik?. Merubah masalah tidak penting menjadi sangat penting. Dan supaya lebih menarik, atau judulnya "Merubah yang tidak menarik menjadi sangat menarik". Tepat!. Aku sudah berada dilantai tiga. Dan sedang akan melangkahkan kaki menuju tangga ke lantai 4. Di sebuah kantor tempatku bekerja. Betul!. Aku menganggap hari-hari ini tidak ada masalah penting maupun rumit. Pikiran ini sudah terlalu kosong. Perlu untuk dipicu. Tarik pedal gas lagi. Supaya kembali berlari. Yup...aku perlu merubah yang tidak menarik menjadi sangat menarik.

Huuft... Sungguh susah dan kepalaku mual. Perutku pusing. Pemikiran harus mendalam. Terbukti! bahwa tidak ada masalah... adalah masalah. Sudah ku coba paparkan mulai dari part 1. Ku coba menceritakan sesuatu yang sangat-sangat tidak penting dan sangat-sangat tidak menarik. Aku coba merubah menjadi semenarik mungkin seolah-olah sangat penting. Tentunya menarik dan penting bagiku. Sebelum anda yang membaca bilang "apanya yang menarik dan penting?". Bila anda menjadi koki sebuah restaurant, anda sekarang sedang dihadapkan masalah. Bagaimana anda menyajikan tempe goreng menjadi sangat menarik dan sangat enak. Yes... Masih untung saya bukan koki... pasti gosong tempenya.

Demikianlah kehidupan. Hidup manusia itu sungguh indah. Ada saat penuh masalah, penuh penat, susah sedih, enak tidak enak. Namun ada juga saat dimana tidak ada masalah sama sekali. Bahkan harus mencari dimana masalah berada.

Seperti aku saat ini.
Ketika kaki sedang mulai menginjak anak tangga pertama menuju lantai 4.
Terlintas dalam pikiran sesat.
Ketika aku nanti masuk surga, amiiin.
Disana yang ada hanya kesenangan. Hanya berisi kebahagiaan. Tidak ada kesedihan. Tidak ada permasalahan.
Sehari-dua hari. Seminggu-dua minggu. Sebulan-dua bulan. setahun-dua tahun. Seratus tahun-dua ratus tahun.
Okelah kita seneng-seneng terus.
Tetapi, disana kekal brooo!. Apakah tidak akan membosankan?!. Isinya cuman makan-minum. Bersenang-senang. Apakah tidak ingin mencari tantangan?.
Kalau di dunia, di Bumi, sesekali kita menantang alam dengan mendaki gunung, memanjat pohon kelapa, terjun dari ketinggian. Wallohu A'lam sangat terbatas berfikir kita.

Em..Omong-omong, kalau aku nanti bosan di surga, sesekali waktu lah... coba berkunjung ke Neraka. Hehe.. Tapi jangan lama-lama.

Demikianlah kehidupan. Hidup manusia dibumi ini sebenarnya sudah sangat lengkap dan seimbang. Musisi dari Kediri bilang "Bahkan, Lagu sedih pun... sangat indah untuk didengarkan".

Selasa, 23 April 2013

"Repot Banget Sih!" (sebuah Note dari Facebook)


Selasa, 5 Juli 2011, sekitar 16.50 WIB.....
Back To Dumai

Di Bandara Soekarno Hatta terminal B tujuan Sumatera sedang ramai. Juga di Gate B3 penuh sesak Mamalia tujuan Pekanbaru. Sudah 1 jam menunggu karena dikasih bonus "Dele" dari maskapai Kucing. Wajah-wajah jenuh, make up tampak luntur dan kantong kemih penuh memaksa banyak orang keluar masuk toilet tanpa henti hingga harus sedikit mengantri. Termasuk aku..,Aah..Sudah tak tahan menunggu giliran untuk mengambil nikmat Tuhan di satu jajaran jamban berdiri khusus kencing.

Saat sudah masuk giliranku.. sesaat ketika sedang menyeringai nikmat..Ah...Srrr.
Masuk 4 anak kedalam toilet pria dengan agak berlarian keburu agak terengah-engah... dan gaduh, sebut aja namanya
Ahmad (4 SD, Perawakan: Gendut Gede)
Wahyu (2 SD, Perawakan: Sedang)
Yudi (TK B, Perawakan: Wajah masih kekanakan)
Iyud (Mau TK, cerdas, sok berlagak dewasa, karena paling kecil badanya...tentunya anunya juga, cuma ikut mengantar teman-temannya kencing).

Terjadilah percakapan cepat dan keras diantara mereka, cukup berisik dan mengganggu konsentrasiku menikmati rahmat...Nya.
Iyud          : Ohh... kaya gini ya toiletnya? (matanya menyapu ruangan, agak kagum)
Ahmad      : Keren ya Yud? rumahmu ga ada toilet apa?
Yudi          : Jambannya kan halaman depan rumah, "kali"..haha
(Iyud, masih berdiri mengamati dengan memasukkan dua tanggannya kedalam saku celananya, masih dengan tujuan biar kliatan cool dan dewasa dihadapan kawan-kawannya)
Iyud          : Trusss...ini, kamu-kamu kencingnya dimana...
Wahyu      : ah lu anak kecil... ngompol dicelana aja sana
Ahmad     : Gini niiiih....
Ahmad langsung berlari mengambil giliran kedepan jamban berdiri. Dengan berjinjit agak kesulitan. Membuka resleting. Sedikit menurunkan celana. Dan...  "currr...!!" aah shit!! terlihat oleh semua termasuk aku menjadi saksi... 'AGAK TERCECER'
Iyud          : Hahaa... Yaah.. jaman sekarang... kaya gue dong pake PAMPERS..
                    REPOT BANGET SIH!

Hahahaha... ancurrr!! Aseem!! aku tersinggung!! cerdas juga tuh anak.

Memulai Senin 22 April 13 (Part1)


Hari Senin, waktu itu..

Karena baru sampai di kantor pukul 11.00 siang, alias sangat terlambat, maka aku belum sempat berkeliling menyapa teman-teman, rekan kerja dan bapak-bapak bos di ruang-ruang kerjanya. Dan sekarang, setelah makan siang, setelah mengisi perut, mengisi tangki bahan bakar untuk otak dan tubuhku, setelah sholat dhuhur di lantai 1, lantai dasar kantor, untuk mengisi tangki hati sehingga bersemangat lagi, aku bergegas melangkah kedepan lift dan sekarang sedang menunggu berdiri. Sesaat kemudian pintu lift terbuka, kemudian aku masuk lift dan pintu lift tertutup.

Aku melihat melalui sensor dimataku mendeteksi papan tombol di sudut kanan pintu dalam lift, ada nomor 1 sampai 3, ada tombol menutup pintu "><" dan membuka pintu lift "<>". Sinyal dari mataku mengirim ke otakku, kemudian otakku berfikir dengan energi dari makan siang, berproses... dan berproses sangat cepat. Selain pikiran logis/rasional dari otak kiri (kata ahli mengenai rasional adalah otak kiri) juga di imbangi otak kanan atau ah! sederhananya aku bilang berasal dari hati atau jiwa, khusunya sosial untuk bertemu rekan kerja. Pikiranku masih berputar dengan cepat melebihi kecepatan prosessor Quad Core. Dalam sepersekian detik sejak sensor mataku mendeteksi tombol lift, otakku sudah mendapatkan keputusan dan segera memerintahkan tangan untuk bergerak sangat cepat. Saat itu juga tanganku terlihat oleh mata bergerak dengan sempurna dan cepat menuju sebuah tombol, dan dengan sempurna pula dan pasti telunjuk jari "Tap!!" tertekanlah sebuah tombol. Tombol yang tertekan persis sesuai dengan perintah otak. Perintah yang dilaksanakan oleh tangan dikerjakan dengan sempurna dan cepat, kerja yang sangat bagus. Perfect.

Sesaat setelah tombol ditekan, apa yang terjadi.... Ada yang bergerak dari bagian lift. Bagian itu bergerak... "ZZzzzzt"... Dan benar pintu lift terbuka lagi, Terbuka lagi? Yup... Terbuka lagi tidak jadi pergi naik ke lantai manapun. Dan sekuen selanjutnya setelah tangan dengan sempurna mengerjakan tugasnya, kemudian kaki kanan bergerak melangkah kedepan disaksikan oleh mata bahwa kondisi lantai didepan lift aman untuk dipijak, kaki kanan melangkah sempurna dan cepat, dilanjutkan kaki kiri melangkah dengan sempurna juga. Oke done! Keluarlah tubuh ini dari dalam lift, "Kaki!! Well Done!!", Alhamdulillaah.

Otakku memikirkan dan sekali lagi membenarkan keputusan untuk keluar dari lift sebelum naik. Lebih baik lewat tangga. Alasan pertama, naik ke lantai ke dua kemudian ke lantai tiga adalah untuk melatih kaki menanjak biar lebih kuat. Alasan kedua, kompensasi hujan tadi pagi yang mengurangi jatah kaki untuk berlari pagi. Dan alasan ketiga, lebih cepat karena tujuanku ada di semua lantai secara berurutan, bukankah rekan kerjaku ada disetiap lantai, lantai dua, tiga dan empat. Yup! Keputusan tepat. Alasan Optional, preeet.... menghemat energi listrik, memberi kesempatan bagi yang lebih membutuhkan lift, untuk ibu hamil atau temen-temen yang kakinya masih kaku dipagi ini.

Dengan sadar, dengan kakiku, agak berlari naik kelantai dua. "Tap..tap..tap" Hap....! Kulihat seisi ruangan, kursi-kursi dibalik meja masih kosong, PC di meja juga masih mati, kulihat jam dinding masih jam 13.10, yup.... Mungkin rekan rekan masih sholat atau belum kembali dari istirahat. Segera kulanjutkan kaki ini melangkah menuju tangga berikutnya, yup... Lantai tiga. Go.. Go... Goo..!

Sampailah aku di lantai 3. Tiga meter disebelah kiri tangga lantai tiga terdapat pintu yang sudah terbuka, pintu ruang Operasi. Yup... Lantai tiga terdapat beberapa ruangan, yang dipisahkan oleh tembok-tembok partisi. Dari paling kiri terdapat ruang AI (Audit Internal) yang dipimpin oleh bapak Agus Supriyono, di sebelah kanan ruang AI terdapat ruangan Marketing yang dipimpin... Hm.... Oleh siapa sekarang... Haha sudah lama tidak ke kantor, yang aku kenal pak Catur, Hulail, Frestie, Rudi, Awang disana. Selanjutnya disebelah kanan ruang Marketing terdapat ruang COE (Community of Excelent) Ruangan ini ruangan yang cukup panjang untuk dijelaskan, intinya ruang ini pusat monitoring semua kegiatan dalam perusahaan dan unit-unit dari perusahaan. Dan Sebelah kanan COE inilah ruangan paling luas, Ruang Operasi, yang dipimpin bapak Agus Budi Santoso, ruang yang berada tepat 3 meter dikiri dari tangga lantai 2. Selanjutnya disebelah kanan ruang Operasi terdapat ruang pengadaan yang dipimpin bapak Agus PK.

Aku masuk keruang-ruang yang kusebutkan tadi ternyata masih pada kosong, kecuali ketika aku mau masuk ruang Operasi. Tepat sebelum kakiku melangkah masuk melalui pintunya. Ada sesosok "benda berbalut kain putih" tiba-tiba menyembul dari tengah pintu, dan reflek kakiku seketika terhenti dan terkaget. Ups! Peruut...! Menyembul dari pintu diikuti bagian tubuh yang lain sehingga tampak jelas siapa yang keluar dari pintu Ruang Operasi. "Ups... Assalaamualaikum mas Nudi, selamet siang... Pripun kabare? Kulo Bejo njenengan sinten?" sapa Orang tersebut dengan ramah dan senyum yang renyah membuat siapa saja terkesan dengan sapaannya. "Alaikum salam.. Pak Hari, saya Nudi jongos saking Kediri, Alhamdulillaah sehat". Ya... Bapak Suhari Kahar, beliau baru saja pensiun namun masih bersemangat dan menikmati selama di perusahaan. Beliau begitu ramah bersahaja dan membuat saya segan, sejak pertama bertemu beliau di Dumai, kemudian bekerja sama di Lampung - Besai, dilanjut beliau menjadi Project Manager di Simple Inspection PLTU Asam-asam, aku sangat terkesan dengan cara berkomunikasi dengan siapa saja, sangat menyenangkan, renyah dan harusnya, seharusnya saya belajar dari beliau. Dan selanjutnya, obrolan berlangsung dengan mengalir dan apa adanya dengan beliau, kemuadian saya masuk ruangan dan bercengkrama dengan beberapa rekan kerja, bertemu mas Dian yang sedang asik dengan gadget-gadgetnya. bertemu dengan Ferdiana, "Ibu kami" yang mengatur urusan Surat Perjalanan Dinas yang menurutku dia baik hati kok... meski banyak omongan, dia sedang ditemani anak buahnya "Surga" Jeng Jannah. Disampingnya Ferdiana, bertemu Ibu beranak satu Citra, yes ibu ini cukup stereo dan rancak bana!.

Oke, Over all ruang lantai 3 saat itu jam 13.30 masih sepi. Dan aku pun selesai bertemu rekan-rekan dan akhirnya memutuskan melanjutkan ke lantai 4 melalui tangga, yang berada tidak jauh dari tangga naik dari lantai 2 dan berada sekitar 3 meter juga dari pintu ruang Operasi lantai 3. Senang berada di perusahaan ini overall orang-orang disini ramah seperti keluarga, pressure tiap pekerjaan ditanggung bersama-sama, sangat jarang mengalami stress. Over all para manager sangat bertanggung jawab, bahkan dalam melindungi anak buahnya, juga bagaimana care nya para bos terhadap permasalahan yang dihadapi bawahan-bawahan di lapangan. Salut untuk semua... I love it.

Hujan di pagi dua hari ini


Bismillahirrahmanirrahiim

Berniat memulai hari ini dengan dipenuhi ibadah

Beberapa hari ini aku tidak menulis seuatu
Dan dua hari ini Surabaya dibasahi air dari langit yang dicurahkan oleh Alloh di pagi hari.
Pastinya ini disengaja... Belum tahu apa maksud Alloh menurunkan hujan di pagi dua hari ini.
Bagi banyak orang terutama Bangkongers, Gamers, yang kerja shift sore, sudah pasti memahami dan mensyukuri dengan turunnya hujan di pagi dua hari ini telah menambah nikmatnya tidur pagi.
Juga bagi anak-anak payung, ibu-ibu payung yang ladang mata pencahariannya bertumpu pada terminal Bungurasih tentunya pagi-pagi sudah mendapat banyak berkah dari hujan di pagi dua hari ini, yang secara logika kebanyakan orang orang yang datang dari Krian ke barat - Mojokerto - Jombang - Kertosono - bahkan Kediri atau Madiun untuk beraktifitas di Surabaya, tak akan rela seragam dan sepatunya ketika tiba di tempat tujuannya, di kantor tempat kerjanya menjadi basah karena air berkah dari langit pagi. Terutama lagi, bagi banyak orang dari Surabaya yang akan pergi ke luar kota, pasti lebih banyak yang memakai jasa payung karena dari area ruang tunggu Treminal Bungurasih menuju Bus parkir tunggu penumpang terdapat jarak tanpa atap yang akan cukup membasahi tubuh meski berlari dari hujan.

Terminal Bungurasih, Kira kira setahun terakhir ini semakin padat. Pengguna bus juga semakin menggila. Mobilitas manusia samakin tinggi menggila. Seingatku dua tahun lau tidak separah ini. Kalau hari minggu maupun senin pagi sebelum subuh, aku berangkat naik bus dari Kediri, bus selalu cukup kosong, tempat duduk melimpah. Tapi tahun sekarang, aku pernah mengalami berangkat dari Ngadiluwih jam 2 pagi dimana orang orang seharusnya masih lelap tertidur, aku sudah harus berdiri dengan banyak orang di dalam bus. Tidak pernah sepi. Jaman sekarang, Mobilitas manusia sungguh luar biasa, dari sana kemari dari kemari kesana.

Hujan di pagi dua hari ini, bagi saya, yang di dua pagi ini dan rencananya hingga beberapa hari ke depan sudah berencana sejak hari minggu lalu, telah berniat tiap pagi berlari pagi, untuk meningkatkan stamina dan terutama libido yang agak surut, harus sedikit mengernyitkan senyum ceria yang selalu ada. Hujan di pagi dua hari ini sekenarionya sama, persis, dimulai ketika aku sudah melangkahkan kakiku 50 meter dari gerbang tempatku bermalam.

Di dua pagi ini, Tiap jam 5.20 pagi aku baru terjaga, tepat ketika subuh lima menit lagi habis. Tepat jam 5.30 kakiku sudah terbungkus oleh sepatu olah raga baru yang sudah lama terbungkus dalam kresek disamping kamar mandi. Aku melangkahkan kakiku keluar dari pintu menuju udara bebas yang segar. Ku gerakkan kepalaku kekanan dan kekiri, kugerakkan tanganku memutar kedepan dan kebelakang, kugerakkan kakiku agak meloncat bergerak tidak beraturan, kugoyang goyangkan pinggangku ke depan samping dan memutar yang jelas tidak teratur seperti goyanganya penyanyi dangdutan. Sekedar untuk meregangkan otot, menyiapkan otot otot ini sebelum berlari.

Bismillaah.. Dan aku mulai berjalan keluar dari gerbang... Sekitar 10 meter dari gerbang...mulai aku melangkah agak cepat...  basahnya tanah dan aspal belum menghilang sejak hujan semalam, saat itu aku baru menyadari bahwa langit agak mendung. Angin semilir terasa sejuk menghembus wajah dan beberapa menembus lubang hidungku dan dengan ritme yang tetap aku hirup udara itu hingga masuk kedalam dadaku... Subhanalloh begitu segar seolah mendesak sisa sisa udara pengap yang ada dalam dada, terasa pula serasa darah mulai mengalir dengan lebih sempurna dengan membawa oksigen-oksigen baru... Kepala mulai sedikit terasa bangun. Dan.. Langkahku mulai semakin cepat seperti mau berlari ketika sudah di 20 meter dari gerbang, "tap... Tap... Tap" suara sepatuku mulai mendepak aspal dengan semakin mantap. Ada genangan air tak jauh dari cekungan aspal.. Sensor yang ada dimataku segera mendeteksi dan reflek motorikku bergerak dengan cepat.. "Hap" kakiku melompat tanpa menyentuh air. "tap" dan saat itu pula "Tik", sebelum aku menyadari sensor-sensor peraba disekujur kulitku mendeteksi sesuatu, air, terasa kulit ditangan dan kepalaku merasakan titik air. Ada yang jatuh dari langit... Hanya sedikit dan kecil kecil.. Hanya titik air... Hanya beberapa titik air, cukup kontinyu... "Hap" aku melompat lagi tanpa sadar reflek di tubuhku menghindari genangan air, tidak akan menyurutkan semangatku. 

Pikiran bawah sadarku sedang berlari menggerakkan kaki dan menghindari genangan genangan air, sementara pikiran sadarku memikirkan titik titik air. Dengan cepat pikiran sadarku mengambil kesimpulan, titik air... titik air, pikirku dengan sadar titik air pagi hari itu biasa, mendung berembun sedikit berkabut diatas dan jatuhlah titik titik air dari langit. Oke! dengan mantap dari pikiran sadar diotak memerintahkan kepada otot-otot dikaki untuk lebih semangat berlari. "Hap hap "... "Tap...Tap".

Setelah berlari tidak jauh baru 40 meter dari Gerbang. Dengan cepatnya "Byurrrr"..... Air hujan sungguh telah berjatuhan kebumi dan mulai membasahi tubuhku, reflek bekerja, tak rela tubuhku basah karena hujan, tak rela baju dan sepatu ini basah, aku pun berlari dengan sekencangnya berbalik arah kembali masuk kedalam gerbang dan berlari lagi di bawah atap atap yang tak tertembus hujan. Fiuuhhh... Hujan di pagi dua hari ini membatalkan niatku. Oh... Sebagai ganti kecewa, aku putudkan tetap berlari, berlari-lari di sekitar teras yang pemandangan sekitarnya kurang menyenangkan untuk lari pagi.

Sementara itu, pikiran sadarku masih berfikir hujan di pagi dua hari ini, kenapa?, adakah Alloh menurunkan hujan ini dengan aku? apa karena bangunku yang kesiangan?, atau memang ada maksud lain dari Alloh supaya tidak bertemu dengan tukang pijit yang seminggu lalu tak sengaja bertemu di kios bunga pinggiran jalan ketika jalan pagi dan menawarkan pembesaran "anu"?. Subhanallooh... Maha Suci Alloh, Maha Tahu Alloh.

Rabu, 17 April 2013

Sejengkal Tanah


Merancang sebuah rumah yang kecil, yang effisien bahan bangunan, yang murah cukup memakan banyak waktu. Dan sampai sekarang juga gak selesai selesai. Penyebab pertama kenapa tidak selesai adalah tidak segeranya dimulainya pembangunan.. Haha... Karena lahan masih terpakai. Yang kedua memang niat untuk memulai yang belum kuat karena pertimbangan ini itu yang tidak tentu.

Lahan yang rencana akan dibangun rumah oleh kami adalah lahan perkampungan yang cukup luas, namun sayangnya memanjang, luas nya 50 ru atau sekita 762 m persegi. Kalau dikota, ini sudah tanah yang sangat luas. Justru bingungnya, membuat rumah yang tepat dengan lahan memanjang untuk sekarang maupun masa depan.

Lahan ini cukup strategis, berada disamping perempatan. Di pojok sudut tanah terdapat Polindes yang tiap harinya makin bertambah ramai, berharap kelak, semoga nanti, Polindes diperluas dan memakai salah satu sudut tanah kami. Kemudian, berjarak 20 meter kearah timur terdapat Sekolah Dasar Islam, juga TK. Kemudian sekitar 50 meter kearah utara terdapat Sekolah Dasar, dimana aku dulu juga sekolah disitu. Yang paling penting kearah selatan sekitar 50 meter juga terdapat kuburan, ya! Kuburan umum kampungku, jadi nanti kalo dari kami ada yang mati gak perlu jauh-jauh dari rumah heehee. Tapi untungnya tanah kami ini tidak terkesan angker, cukup jauh dari kuburan dan berada diseberang barat dijalan yang berbeda.

Dari segi history tanah ini, tanah ini menarik, dimulai dari lebih dari 1 tahun lalu. Alhamdulillaah disaat kami cuma punya uang 70 juta tetapi kepingin punya lahan tambahan. Kami iseng-iseng mencari dan akhirnya mendapat tanah yang dimiliki oleh orang terkaya dikampung kami, untungnya beliau bapaknya temen dari istriku, juga beliau kenal dengan keluarga besarku, keluarga kampung, jadi hal itu mempengaruhi cara pembayaran namun tidak mempengaruhi harga pembelian hehe. Alhamdulillaah boleh dibeli 104 juta, tidak berubah dari harga penawaran huufft.... tapi dengan uang 70 juta bisa kami beli. Yup... sisa 34 juta kami cicil setahun tanpa bunga.

Nah tanah itu sekarang dikelola oleh orang disebelah tanah, tetangga, sebut saja pak S, buruh tani, yang berkeluarga sederhana. Tapi sayangnya pak S ini tidak pernah minta ijin ketika tanah sudah berpindah tangan ke kami, beliau tetap mengolah tanah, beliau juga tidak pernah bersua sekalipun menemui kami sebagai pemilik tanah. Namun untungnya istrinya masih beritikad baik selalu membagi hasil kebun dari tanah tersebut. Alhamdulillaah kadang dapet kacang, dapet terong, dapet ketela.

Satu waktu kami berkunjung ke kebun bersama istri dan anak, disana kebetulan ada pak S. Ketika mengetahui kami ada di situ beliau tidak berinisiatif menemui kami. Ohh... Mungkin beliau nggak melihat, beliau sudah berumur, akhirnya aku datang masuk ke rerimbunan kebun dan berkenalan. Dan kesan pertama ketika ngobrol dengan beliau kurang menyenangkan, tetap acuh kepada kami dan berkomentar yang bernada negatif mengenai batas tanah, padahal tanpa saya tanya beliau sudah berkomentar "saya tidak tahu lho mas.. Batas batas tanah ini". By the way seharusnya gak perlulah ngomong gitu kalau beliau nggak tahu, tapi sebagai pengolah tanah yang sudah setahun lebih di tanah itu seharusnya tahu. Karena samping kiri kanan tanah tersebut adalah tetangga beliau, bahkan ada hubungan saudara dengan beliau, yang pastinya sesekali pernah berbasa basi dengan tetangganya mengenai batas tanah tersebut. Yang kedua, ketika saya menyampaikan rencana saya mengenai pembangunan rumah beberapa bulan kedepan, sekitar dua bulan lagi, beliau langsung mengatakan "ya boleh saja... Tapi ya mohon diganti (dengan uang) untuk tanaman yang sudah terlanjur saya tanam (pepaya sekita 50 buah yang sudah mulai berbuah)". Dan banyak percakapan yang kurang menyenangkan mengenai permintaannya untuk penggantian tanaman... Yaahh... Padahal beliau nggak pernah minta ijin mengolah tanah, juga nggak ada sewa... Justru seharusnya kami yang seharusnya mendapat uang sewa. Bahkan setelah membeli tanah tersebut, setahun yang lalu, dari kami sudah menyampaikan kekeluarga mereka (saat itu yang kami temui istrinya) bahwa sewaktu waktu kami akan membangun rumah ditanah tersebut, mohon untuk menyeseuaikan.

Setelah bertemu dengan pak S, saya cukup kepikiran dan memakan pikiran. Istri saya bilang nggak usah di ambil hati nggak penting beliau, secara hukum gak ada hak apaun dimiliki pak S atas tanah tersebut. Berselang tiga bulan setelah bertemu pak S, ketika saya pulang dari kalimantan, ketika liburan, kami mendapat berita bahwa pak S meninggal dunia karena jatuh dari pohon ketika mengambil rambanan (dedaunan untuk ternak). Innalillaahiwainnalillaahi rajiuun dan subhanallooh. Kami memaafkan pak S dan semoga diampuni semua dosa juga amal amal nya diterima oleh Tuhan