Rabu, 25 September 2013

Perjuangan ke Jepang (1) - Masih Indonesia


Persiapan ke Jepang

Sebelum keberangkatan kami (15 orang, 10 dari PJB dan 5 dari PJBS) disibukkan dengan berbagai acara. Mulai dari sibuknya pembekalan mechanical serta bahasa Inggris. Kemudian mempersiapkan paspor dan visa yang harus kita siapkan dari Nol. Serta acara acara yang sifatnya formal seperti pengarahan-pengarahan dan motivasi dari Big Bos-Big Bos. Dan yang paling membuat itu semua menjadi ribet (terutama yang saya alami) karena saya masih terlibat dalam project tertentu sejak awal dan tidak berada di kantor pusat. Pada saat itu saya masih terlibat dalam proyek Simple Inspection PLTU Unit 3 TJB yang saya terlibat cukup dalam karena memang memulai dari awal.

Apasih tujuan kami ke Jepang?. Tujuan kami ke Jepang yang pertama adalah penugasan oleh perusahaan untuk mengikuti training yang juga termasuk ujian untuk menjadi Technical Advisor untuk Perusahaan Mitsubishi dalam bidang keahlian Steam Turbine. Tujuan perusahaan adalah menjadi pioneer dalam kerjasama internasional yang akan membuat perusahaan kami semakin Go Internasional.

Untuk menembus menjadi 1 peserta, kami harus melalui beberapa tahap ujian seleksi dari perusahaan:
  1. Tes tulis kemampuan teknis dan bahasa inggris
  2. Kemampuan presentasi dalam bahasa inggris
  3. Wawancara dalam bentuk presentasi

Apa kebutuhan yang diperlukan:
  1. Persiapan pengetahuan mengenai Mechanical khususnya Steam Turbine, ini sangat penting, karena basic saya adalah electrical
  2. Persiapan kemampuan berbahasa inggris
  3. Persiapan non teknis (SPPD, paspor, visa dan dokumen lain)

Hingga hari akhir, Jumat 06 September 2013, kebutuhan yang sangat penting dari Nomor 3 belum juga selesai. Kami cukup galau karena kami masih perlu menukar uang yen juga. Dan uang dari kantor mencair mendekati sore hari di hari terakhir. Dan akhirnya kami mendapatkan yen dengan harga mahal 1 yen=120 rupiah.

Surabaya-Jakarta

Hari itu adalah hari sabtu tanggal 07 September 2013.
Saya jam 06.00 dari Kediri sudah siap-siap berangkat. Namun beberapa hal membuat sedikit tertunda, karena ketakutan saya akan harga pangan dan biaya hidup disana yang terkenal mahal. Ibu membuatkan saya kering tempe sejak pagi buta dan jam 06.00 pagi belum selesai. Akhirnya batal yang saya bawa dengan tergesa bukan kering tempe, namun tempe kering goreng. Saya juga segera meluncur ke pasar. Yah... Berburu mie gelas, mie yang paling praktis karena cukup diseduh dengan air panas. Dan gagal... yang saya peroleh adalah telur asin sebanyak 10 buah masih panas dan susu instan. Agak grogi juga takut ketinggalan pesawat, saya masih harus berpamitan dengan mertua. Saya diantar istri dan anak sedikit agak ngebut dari biasanya. Alhamdulillaah semua selesai sebelum jam tujuh. Dan saya berangkat dengan bus ke Surabaya sekitar jam 07.00.

Diperjalanan saya masih berburu mie gelas, saya calling teman-teman yang ada di Surabaya. Saya minta tolong mas Arif yang juga kebetulan lagi berburu mie Gelas. Singkat cerita saya sampai di Bandara pukul 10.30 tepat. Sangat beruntung tidak terlambat karena macet. Dan disana sudah menunggu teman kami Angga, Pak Winanto, Pak Jupriyadi, Indra, Mas Nasruddin dan Hafids. Tak lupa juga hadir satu-satunya wanita, Shifa yang akan mengantar kami sampai Jakarta. Sementara teman saya yang saya titipi mie gelas, Mas Arif belum datang. Begitu juga teman kami yang lain, Pak Suandiarto, Mas Anwar Hamidi, Pak Dwi belum juga datang.

Tepat jam sebelas kami memutuskan untuk check in. Karena pesawat kami boarding jam 11.25. Waktu itu kami menggunakan pesawat citilink. Ternyata prediksi kami tepat, waktu untuk check in sudah mau habis dan teman-teman kami yang lain tidak bisa melakukan check in. Dan dengan agak kacau karena harus berkomunikasi dengan teman yang terlambat, akhirnya tiket mereka tetap tidak bisa tertolong. Dan akhirnya  singkat cerita kami hanya terbang bertujuh. Sedang teman kami yang empat tiketnya hangus dan harus mencari tiket di penerbangan berikutnya.

Menjadi tidak ada yang istimewa dalam penerbangan Surabaya-Jakarta kali ini. Karena teman kami empat tidak bisa ikut terbang karena keterlambatan mereka yang menjadi bumerang bagi meraka dan juga kami. Citilink, maskapai yang tepat waktu, kami sangat respect padanya. Kedepannya, tepat waktu adalah salah satu point penting bagi kami bahwa terlambat akan merugikan diri sendiri dan orang lain.

Jakarta (Sukarno-Hatta)

Di Jakarta kami bertemu dengan Maliza yang membantu kami sejak awal, serta di mensupport kami membawakan barang-barang kami dari Terminal 1 Sukarno-Hatta menuju Terminal 2 International Sukarno-Hatta. Kami menunggu penerbangan berikutnya ke Tokyo Jepang jam 21.00. Teman-teman kami dari PJB Jakarta satu persatu juga mulai datang Mas Wahyu, Mas Gancis, Mas Fajar. Selain itu temen-temen dari Surabaya akhirnya mendapatkan penerbangan jam 15.00 yang akan bersamaan dengan kedatangan Ibu May yang akan menemani kami hingga seminggu di Jepang.

Hingga akhirnya menjelang Magrib jam 17.00 kami segera memutuskan check in, dan menunggu didalam ruang tunggu yang lebih nyaman. Ini adalah penerbangan internasional perdana saya. Kami menggunakan maskapai ANA (All Nippon Airways) Kelas Ekonomi. Kesan pertama ketika check in di maskapai ini agak berbeda dengan check in biasanya. Ada pembatas antrian yang lebih jelas dengan menggunakan tali pembatas. Tidak seperti check in pada penerbangan lokal. Antrian lebih tertib dan lebih berdedikasi. Dan hal ini ternyata menjadi salah satu pembeda mencolok kelak setelah kami tiba di Jepang. Cara mengantri pada check in sangat enak dan tertib.

Jadi dalam satu area check in ada beberapa tempat/ pos/ loket check in (di beberapa bandara seperti Narita untuk bagasi  ada loket-loket khusus antrean bagasi, sedangkan check in dilakukan secara elektronik oleh penumpang di komputer-komputer yang tersedia). Kami mengantri mengular berbelok belok mengikuti tali batas antrian. Antrian berhenti hingga di ujung dua tali pembatas. 2 meter dari antrian berjajar loket-loket untuk check in. Bila ada loket check in yang kosong maka pegawai di loket tersebut akan menyapa pengantri dengan sopan dan menunduk khas Jepang. Dan satu pengantri maju menuju loket yang kosong. Begitu seterusnya.

Agak lama harus mengantri, namun lebih terasa tertibnya dan lancarnya. Akhirnya giliranku untuk maju. Saya meletakkan barang bagasi di timbangan di samping loket. Saya diminta menunjukkan paspor dan tiket. Saya di tanyai beberapa pertanyaan mengenai bawaan bagasi, dia menunjukkan tabel barang-barang yang perlu perhatian khusus maupun dilarang masuk dalam bagasi. Dan saya menyampaikan tidak ada barang khusus maupun terlarang. Dan proses check in pun berjalan lancar, Saya perlu membayar 150 ribu rupiah untuk tax airport khusus di Sukarno-Hatta. Saya dikasih tiket dan Nomor bagasi (Lugage bahasa Inggrisnya).

Saya dalam perjalanan ke Jepang tidak membawa banyak barang, dan itu memang yang terbaik dan pas.  Antara lain:
  1. Tas ransel besar:
  1. 1 Kaos ( berkerah)
  2. 2 Kaos untuk bekerja
  3. 2 Wear Pack untuk bekerja
  4. 2 Celana Dalam
  5. Sarung bisa untuk sajadah
  6. Peralatan mandi, sikat, odol, kanebo, shampo botol kecil
  7. Sepatu jalan-jalan semi formal
  8. 2 plastik Tempe Kering goreng
  9. 10 Telur Asin
  10. 2 kotak kecil susu dancow bubuk
  11. 5 saset kopi onstan
  12. Obat-obatan  : mixagrip, antangin, enervon C, Propolis
  13. Kunci gembok kecil untuk ransel
  14. Sepasang Kaos Kaki


  1. Tas Ransel dibawa ke kabin
  1. Laptop (saya bawa Netbook) dan accessories
  2. Surat dokter, dan dokumen lain selain passport
  3. 220.000 Uang Yen,
  4. Dompet berisi rupiah, KTP dan ATM sementara diistirahatkan dalam ransel
  5. Alat tulis: Note kecil, bolpoint
  6. Badge perusahaan
  7. Beberapa tas kresek, tisue, isolasi lakban untuk proteksi tas ransel
  8. Hand Gift untuk orang jepang, saya bawa Sarung tiga buah
  9. Sisa ruang untuk snack dan botol minum

  1. Tas Pinggang
  1. Passport
  2. Tiket
  3. Beberapa lembar uang yen
  4. Handphone
  5. Charger
  6. Kunci Gembok Ransel
  7. Head set

  1. Melekat dibadan
  1. Kaos
  2. Hem
  3. Sepatu safety
  4. Jaket
  5. Kaos kaki
  6. Celana dalam
  7. Celana pendek

Bagasi saya ditimbang hanya 12 kg (Ketika pulang hanya 15 kg). Berbeda dengan teman-teman untuk barang bagasi saja rata-rata mendekati batas maksimum 20 kg. Mungkin terlalu banyak pakaian yang mereka bawa. Bagi saya membawa barang yang seminimal mungkin dan sesuai kebutuhan sudah cukup. Pakaian bisa bergantian kita cuci. Pertimbangan lain membawa nemda sesedikit mungkin adalah nanti ketika pulang masih punya space banyak untuk membawa oleh-oleh.

Membawa bahan makanan yang awet cukup menghemat pengeluaran sarapan pagi dan makan malam saya di Jepang. Setiap kali makan rata-rata 400 yen (50 ribu rupiah). Untuk sarapan saya cukup membeli nasi instan yang hanya 128 yen (15 ribu rupiah) berlauk tempe kering, segelas susu, dan pisang. Buah pisang paling murah di Jepang, Empat buah pisang seharga 100 yen (12 ribu rupiah), bisa untuk dua hari.

Namun meskipun persiapan saya sudah matang, ada satu benda yang tertinggal lupa saya bawa. Ikat pinggang. Tapi tidak menjadi masalah. Yang sedikit kedodoran bagi saya hanya celana wear pack, dan saya akali dengan mengikat dua lubang sabuk celana dengan tali. Beres deh.

Oke, Setelah selesai check in, kami masuk keruang berikutnya. Keruang imigrasi, kami disana mengantri. Passport kami distempel di halaman Visa. Dan selanjutnya kami bebas masuk ruang International, didalamnya terdapat lounge, warung makan, toko oleh-oleh, toilet, mushola dll. Disana kami sholat dan makan. Selanjutnya kami masuk ruang tunggu, kami harus melewati scanner pemeriksaan sekali lagi. Sepatu safety saya menjadi kesalahan. Saya harus lepas sepatu safety, jaket dan laptop dikeluarkan dari ransel. Tapi overall lancar. Oiya jangan lupa botol air minum yang berada di dalam ransel dan di scanner harus kosong untuk lolos dari sini atau anda harus membuangnya atau meminumnya disitu juga seperti teman saya. Namun ada teman yang lolos dengan memasukkan botol airnya kedalam saku celananya sehingga lolos dari deteksi metal.

Begitulah kami berada di ruang tunggu pukul sekitar 19.00. Dan kami masih bisa santai menunggu penerbangan hingga pukul 21.00 dengan tenang.

Kamis, 01 Agustus 2013

Marhaban ya Ramadhan-Marhaban ya Duri (Part 4 : Berkah berduri)


DURI YANG BANYAK DURI

Bapak Agus cukup lincah melintas jalan-jalan kota Pekanbaru. Jalan layang yang setahun yang lalu belum jadi, sekarang sudah bisa dilintasi dan perjalanan menjadi sangat lancar. Suasana Pekanbaru sekarang terasa lebih asri. Jalan-jalannya lebar dan lancar. Di sisi kanan dan kiri banyak pepohonan yang rindang, trotoar serta jalan-jalannya halus dan bersih, sangat meredam kesan panas diluar ruangan. Mobil kami terus melaju lancar, membuat mataku menyapu setiap bagian kota tanpa koma. Hanya sekitar 10 menit kami sudah membelah kota Pekanbaru dan sudah berada di luar kota Pekanbaru.

Mulailah di luar Pekanbaru tampak di kanan kirinya perkebunan sawit sepanjang jalan. Jalan-jalan masih tampak baru sepanjang keluar Pekanbaru sampai kota Minas. Jalan-jalan juga cukup lengang, mungkin karena hari minggu truk-truk besar yang merayap yang biasa mengangkut minyak dan kayu tidak ada yang melintas. Selepas Minas beberapa titik jalan ada sedikit kemacetan karena ada pengecoran jalan. Terpaksa dilakukan sistem buka tutup jalan, namun masih tertib dan lancar. Pemandangan yang konstan dengan sawit, membuat mata terpejam teman-teman yang duduk dibelakang.

Semakin menjauh dari Minas, semakin banyak titik jalan mulai bergelombang, ambles karena beban roda dari truk-truk berat. Apalagi mendekati Kandis, jalan mulai semakin banyak yang rusak dan bergelombang parah. Kesan panas juga semakin terasa. Di sisi kiri dan kanan masih di iringi dengan sawit dan sawit.

Perjalanan sudah berlangsung 2 jam dan semakin mendekati Duri. Perjalanan semakin bergelombang laksana duri ketika mengejar deadline sebuah proyek. Mobil kami harus terus bergoyang ke kanan dan ke kiri. Meski skok mobil cukup empuk tapi goyangannya cukup membuat perut puasa kami terganggu kenyamanannya. Sekitar setengah jam kemudian akhirnya kami sampai di Duri.

KONFLIK PLTG DURI

Tidak lama, mobil kami meluncur ke Unit Pembangkit PLTG. Dari pihak holding PLN menyebutnya PLTG Balai Pungut. Karena lokasi PLTG tersebut adalah di desa Balai Pungut-kecamatan Pinggir. Namun menjadi sedikit dilema dalam komunikasi dan admnistrasi, karena kawan-kawan kami, menyebutnya dengan nama PLTG Duri karena keberadaannya masih dalam wilayah Kota Duri.

Pak Agus mengarahkan kemudinya belok kiri ketika ada persimpangan yang menunjukkan arah ke Pembangkit. Mobil kami mulai berjalan pelan karena sekitar 500 meter lagi sudah memasuki area pembangkit.
Mulailah saya yang duduk didepan sejak berangkat tadi, memperhatikan pemandangan sekitar. Disamping kanan jalan tampak tower tinggi jaringan 150 kV berjajar hingga kesuatu ujung didepan sana. Terdapat kawat-kawat transmisi 150 kV menjalar diatas dari towerke tower yang lain hingga akhirnya melambai turun ke sebuah substation. Substation 150 kV, sebuah area yang berisi Transformator daya dan beberapa peralatan pemutus listrik. Pada struktur-struktur besinya  bergantungan isolator dari keramik seperti pentol cilok kecoklatan yang sudah siap disajikan. Isolator-isolator tersebut memegang kawat-kawat jaringan 150 kV yang merambat dari tower-tower tadi. Dan semakin ditelusuri akhirnya kawat itu berhenti di ujung sebuah bushing dari Transformator Daya yang cukup besar.

Akhirnya mobil kami memasuki sebuah gerbang. Sekuriti tampak tersenyum dan membiarkan mobil kami masuk. Dari kejauhan kami seolah disambut dua mesin berwarna biru yang cukup besar. Itulah 2 mesin pembangkit bertenaga Gas. Suara gemuruh dan udara panas yang keluar dari stack PLTG seolah sedang berteriak gembira menyambut kami. Saya tatap bergantian 2 PLTG tersebut sambil tersenyum. Sedikit berbeda satu sama lain. Namun saya segera mengenali 1 dari 2 PLTG, yang berada di sebelah kanan. PLTG yang arealnya dibatasi oleh pagar kawat tersendiri. PLTG yang disalah satu sudutnya terdapat tulisan khas berwarna biru. Suatu simbol dari perusahaan pembangkit. PT PJB Services.

SI TUA YANG BANDEL

Itulah pembangkit yang akan saya temani selama seminggu kedepan. Dibawah O&M PT PJB Services. 1 dari 2 pambangkit bertenaga Gas, yang belakangan aku ketahui ternyata masih memakai bahan bakar solar, solar yang terkenal sebagai bahan bakar yang cukup mahal untuk pembangkit, setelah gas dan batubara.

Dan sudah menjadi instinc bagi saya seorang yang bergumul dalam dunia pembangkit listrik. Yang pertama menjadi sasaran perhatian saya adalah mesin Pembangkitnya. Saya selami PLTG tersebut dari ujung rambut hingga ujung kakiknya. Sangat jauh dari bayangan yang ada dalam benakku sebelumnya. PLTG yang sudah berumur puluhan tahun berasal dari Madura tersebut masih tampak bagus. Hampir tidak ada karat yang biasanya menyelimuti logam tua, apalagi dia adalah mesin out door. Desing suaranya yang mantap menandakan kinerjanya masih bisa menerangi propinsi Riau. Udara yang keluar dari stack juga tanpa warna, menunjukkan performa pembakaran yang sempurna. Kusapu benda-benda disekitar PLTG juga dasar-dasar lantainya, semua bersih tanpa warna coklat atau hitam dari minyak yang biasanya bocor pada mesin tua. Sungguh unit yang bisa dihandalkan. Unit yang pasti membanggakan para operatornya. Unit pembangkit yang mudah perawatannya. Unit pembangkit yang membuat betah para pekerjanya. Unit tua yang sangat bandel.

Disamping masing-masing pembangkit terdapat gedung kantor untuk administrasi pembangkit dan operator. Semua area bangunan PLTG masih baru, belum ada pepohonan yang meredam panasnya senyum matahari. Beberapa tanaman masih kecil-kecil dan sedang puasa dibawah terik matahari.

Diluar pagar area pembatas PLTG tampak masih berantakan. Tanah-tanah urukan masih belum diratakan dan pembangunan fasilitas juga tampak masih dilanjutkan. Semua area diluar pagar PLTG masih tampak seperti suasana proyek Pembangunan.

Marhaban ya Ramadhan-Marhaban ya Duri (part 3 : New Sultan Syarif Kasim)



Penerbangan pertama, pesawat berangkat tepat jam 06.00 WIB dari Juanda. Tiba di Sukarno Hatta jam 07.00 WIB. Kemudian transit cukup lama di Sukarno Hatta hingga jam 09.40 WIB. Selama perjalanan udara, baik Juanda-Sukarno Hatta maupun Sukarno Hatta - Sultan Syarif Kasim (Riau), hampir 50% perjalanan saya habiskan untuk memejamkan mata, dengan tujuan supaya perjalanan terasa lebih singkat. Sedangkan 50% yang lain terjaga karena beberapa kali pesawat bergetar akibat turbulensi.

Setelah menempuh perjalanan selama 1,5 jam dari Sukarno Hatta, tepatnya sekitar jam 11.30 WIB, akhirnya pesawat mengumumkan akan segera mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasim - Riau. Terdengar sayap kanan dan kiri mengeluarkan sirip-sirip tambahan. Kecepatan pesawat diturunkan. Tampak di bawah mulai terlihat jelas perkebunan sawit yang luas membentang. Sungai yang berkelok-kelok kecoklatan tampak membelah hijaunya perkebunan sawit. Pemandangan diluar jendela terlihat cerah dan panas. Terlihat jelas beberapa bagian tanah yang berwarna putih kecoklatan khas tanah Riau. Tampak silau dari atap-atap rumah dari seng menambah kesan panas propinsi Riau.

Pesawat sedikit bergoyang kekiri dan kekanan. Kakiku mulai tegang. Tanganku tidak sadar memegang punggung kursi didepan saya. Kulirik tetangga sebelah, seorang lelaki sebaya denganku, juga tegang demikian. Pesawat semakin dekat dengan landasan. Dan... Semakin dekat. Dan... Terdengar turbine pada pesawat dimatikan. Suasana seketika senyam hening. Dan.... "Bles.....!!". Pesawat menyentuh landasan cukup keras namun mantap tanpa ragu-ragu seperti atlet sky yang melompat mendarat di salju. Pesawat masih berlari kencang dilandasan. Terdengar gemuruh yang keras dari sayap dan roda yang mencoba untuk mengurangi laju lari pesawat. Dan jantung saya masih berdebar-debar. Tak lama pesawat sudah bisa dikendalikan dan berjalan dengan pelan. Alhamdulillaah... Saya masih hidup dan mendarat dengan selamat. "Selamat datang di bandara Sultan Syarif Kasim- Pekanbaru-Riau, waktu menunjukkan pukul 11.30 WIB, tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Pekanbaru" begitu kalimat yang diucapkan pramugari melalui pengeras suara pesawat.

Sementara pesawat masih berjalan menuju tempat parkirnya, saya sudah mulai tenang dan menyempatkan untuk melihat keluar jendela. Suatu pemandangan yang baru, sebuah bangunan yang modern didominasi warna abu-abu warna logam yang cukup megah, Bandara Sultan Syarif Kasim sudah berubah, Bandara yang baru. Terlihat juga masjid disebelah kirinya sangat cantik dan megah, bermotif bathik khas propinsi Riau. Didepan Bandara baru, tampak sisa-sisa bangunan bandara yang lama yang sudah diratakan dan sedang segera dijadikan tempat parkir pesawat.

Setelah mengantri, dan berada di luar dari pesawat, kami disambut dengan silaunya matahari dan udara hangat yang berhembus. Di luar kami harus mengantri untuk menaiki shutle bus menuju ruang bandara. Karena bangunan bandara belum 100% selesai, tepatnya pesawat harus parkir agak jauh dari fasilitas Garbarata, maka penumpang tidak bisa langsung menuju ruang bandara melalui Garbarata. Setelah sedikit berdesakan, akhirnya kami bisa menaiki shutle bus yang ke dua. Bus melaju pelan menuju gedung bandara. Kemudian belok kiri untuk memutar karena arah parkir penurunan penumpang hanya satu arah.

Setelah bus berhenti, kami turun dan masuk memalui pintu masuk bandara. Dan "Cesss..." udara dingin kembali memeluk kami. Ruang bandara yang dingin tidak seperti bandara yang lama yang seingat saya tanpa AC. Kami terus menyusuri ruangan dan langsung menuju pintu keluar bandara. Sedangkan sebagian besar penumpang mengambil langkah belok kiri untuk mengambil barang-barang bagasi mereka. Sedangkan kami, sudah otomatis tidak ada yang membawa banyak barang bawaan. Cukup tas ransel yang kami panggul di punggung. Tas ransel kira-kira berisi 2 stel pakaian kaos, celana dalam dan wear pack, 1 laptop dan perlengkapan mandi.

Kami tiba di pintu keluar bandara, dan langsung familiar dengan orang berseragam biru telur asin yang sedang duduk tersenyum kepada kami. Bapak Agus juga namanya seperti nama teman kami, beliau sudah cukup tua namun masih tampak sehat dan kuat. Pak Agus langsung berdiri dan langsung menyambut kami.

Marhaban ya Ramadhan-Marhaban ya Duri (Part 2 : Marhaban yaa Riau)


PROPINSI PENUH RINDU

Tak terasa sudah setahun saya tidak pernah kembali ke Riau. Rasanya seperti baru kemarin saya menyelesaikan proyek di Dumai-Propinsi Riau. Sebuah proyek yang membuatku menghabiskan tiga tahun pertamaku bersama PT.PJB Services. Proyek EPC pertama yang pernah dilakukan oleh PJB Services. Sungguh luar biasa dan gemblengan yang luar biasa bagiku memperoleh kesempatan spesial terlibat banyak dalam proyek tersebut.

Dan besok minggu, akhirnya, aku bisa berkunjung kembali ke Riau, meski ke tempat yang berbeda. Namun rasanya pasti akan sama saja, tempat panas yang kurindukan. Ku rindu akan udara pagi yang aromanya khas dengan campuran kabut asapnya. Ku rindu dengan banyaknya buah Durian yang menghiasai pinggiran jalan, buah yang membuat kakiku agak kaku karena terlalu sering menggaulinya. Dan kurindu aroma masakan-masakan bersantan kental, beraroma rempah-rempah yang kaya bumbu, yang tidak terlalu cocok dengan lidah jawaku. Dan yang paling kurindukan adalah, kesan panasnya propinsi itu, yang begitu menyengat karena dekatnya dengan katulistiwa, propinsi yang dibagian kota Duri dan Dumai cukup gersang, sulit mendapatkan air bersih, namun propinsi yang sangat kaya. Riau, propinsi yang bagian atas tanah dan bawah tanah adalah minyak.

PERJALANAN YANG BERAT

Tidak mudah hari ini, minggu pagi buta, jam 00.00 WIB, Kediri. Saya memaksa bangun sendiri dan sendirian untuk segera sahur dan bersiap-siap berangkat ke Juanda-Surabaya. Udara dingin ketika malam antara bulan Juli - September yang terkenal dengan musim bediding di kediri adalah musim terdingin dengan kiriman angin yang berhembus cukup kencang sepanjang malam dengan udaranya yang kering dan dingin. Terasa semakin berat untuk membuka kelopak mata dan tubuh. Empuknya ranjang dan cantik tulusnya istri yang tertidur manis memeluk bantal guling seolah memanggilku untuk kembali kepelukannya.

Hanya tiket, tiket yang memaksaku untuk harus bangun, karena pesawat tidak akan menungguku dan uang 2,3 juta Rupiah akan hangus. Andaikan aku bisa ke Riau dengan 6 jam naik bus Harapan Jaya pasti akan kutunda bangun tidurku. Tapi, tidak mungkin. Dan akhirnya aku membasuh muka tangan dan kakiku dengan wudlu yang cukup mengusir rasa kantuk dan dingin, sementara.

Jam 01.15 WIB aku sudah berada di pertelon desa ngadiluwih. Tempat bus jurusan surabaya pasti berhenti dan menaikkan penumpang. Alhamdulillaah setelah menunggu 30 menit, bus datang. Dan sangat Alhamdulillah bus Harapan Jaya Ekonomi AC yang membawaku menuju surabaya tepat berangkat jam 01.45 WIB. Awalnya sempat khawatir, bus lama tidak melintas dan membuatku akan terlambat sampai Juanda. Namun, sungguh beruntung, yang biasanya kalau sebelum pagi, hanya bus ekonomi tanpa AC yang melintas. Bus yang angin dinginnya masuk kedalam melalui jendela dan pintu terbuka yang pasti akan membuat badan saya masuk angin.

Lebih cepat dari dugaan, setelah sepanjang jalan didominasi dengan mata terpejam dan tidur, bus ternyata sudah sampai terminal Purabaya-Bungurrasih-Surabaya (Sidoarjo) pada jam 03.45 WIB. Dan langsung, saya bermanufer menuju bandara Juanda dengan bus Damri 20 ribu rupiah. Bus Damri khusus Juanda yang parkirnya berada di sebelah kiri tempat kedatangan Bus Umum.

Dan sampai bandara tepat jam 04.15 WIB. Melakukan check-in dibandara yang ternyata sudah sangat ramai dan antrian check in untuk penerbangan jam 06.00 WIB sudah cukup panjang. Selepas check in adalah kesempatan untuk sholat subuh dilantai 2 bandara Juanda. Kemudian saya sempatkan duduk di salah satu deretan kursi ruang tunggu, karena mata masih terasa berat, saya kira cukup untuk memejamkan mata sejenak sambil menunggu Agus datang di Juanda.

Namun ternyata mata sulit terpejam karena ada rasa khawatir bila Agus tidak melintas. Sesaat aku melihat dikejauhan beberapa orang menghampiri counter asuransi di dekat lift dari lantai 1 bandara. Counter asuransi yang tidak wajib bagi penumpang untuk membelinya. Hanphone saya bergetar, ternyata ada SMS. " Yud... Ayo, kabeh wes mlebu pesawat! Aku berempat karo konco ODP4, 3 orang". Oh... Ternyata Agus sudah boarding duluan, dan aku tidak dikasih tahu bahwa kita tidak berdua menuju Riau.

Marhaban ya Ramadhan-Marhaban ya Duri (Part 1 : Marhaban yaa Ramadhan)



Sungguh berkah bisa merasakan lagi datangnya Ramadhan. Namun rasanya, datangnya Ramadhan kali ini akan sedikit berbeda. Tapi Semoga akan tetap berkah.

Pada umunya sehari-hari masih berada di ruang yang sama, mengisi ruang yang sama. Kalau difikir-fikir menjadi kurang bermanfaat bila selalu berada ditempat yang sama dalam suasana kurang manfaat, kurang mendukung lingkunganku.

Berfikir? Apa yang harus dilakukan.

Sementara kita lewati saja, apa yang saya tulis semoga bermanfaat.
Beberapa hari ini sedang sibuk berfikir dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke Jepang. Mempelajari budaya Jepang, sedikit belajar bahasa jepang, yang terpenting mempelajari mechanical Turbine dan Bahasa Inggris yang bagiku masih cukup sulit meski sudah saya perlajari sejak SMP. Suasana siang yang lagi panas diluar ruangan membuatku semakin mantap untuk mempersiapkan diri belajar hal tersebut didalam ruangan kantor yang dingin.

Hembusan angin membuat banyak temen-temen disekitar tentram terdiam. Kecuali satu teman saya yang tidak bisa diam. Tiba-tiba menyapaku dari sudut ruang yang lain. "Yud, Oiyo... Aku nggowo tiketmu!" ujar temanku yang suaranya terkenal cukup lantang kalau berbicara. "Ha!?... Tiket opo?" spontan dari pikirku, tiket perjalanan ke jepang atau cuman bercanda?. "Iki... Tiket nyang Duri!" jawab temanku itu, yang di bajunya tercantum badge bernama Agus. Akhirnya aku datang menghampiri, dan Agus memberiku secarik kertas. Tertulis dalam kertas tersebut, Lion air, Keberangkatan surabaya-jakarta-pekanbaru, pukul 06.00 WIB hari minggu tanggal 21 Juli 2013. "Tiket gawe opo iki? Tugas opo?" tanyaku. "Seminggu di Duri mendampingi temen-temen disana seminggu, gantiin temen-temen operator di PLTG Duri yang lagi tes kompetensi di Palembang" jawab Agus. "OOOkeh!" jawabku semangat.

Rabu, 22 Mei 2013

Sabar (Part 2)


Kesabaran adalah suatu yang sangat berat. Saat bersabar dari suatu kejadian, kejadian itu akan membekas hingga tua. Perasaan untuk mengikhlaskan suatu kejadian sangat berat dilupakan. Kaitan dengan kesabaran sangat erat dengan pendzaliman. Saat seseorang di dzalimi dan dia tidak bisa berbuat apa-apa, maka dia harus bersabar. Dalam perjalanan hidup hampir semua orang pernah didzalimi oleh orang lain. Pada umumnya akan meninggalkan bekas luka yang mendalam dalam hati. Ketidak ikhlasan yang membekas hingga tua. Apakah seperti itu, mereka sudah bersabar?. Kesabaran kita seharusnya memang tidak ada habisnya.

Berkaitan dengan pertanyaan mas Fauzi, ditulisan saya yang berjudul "Sejengkal Tanah". Juga berkaitan dengan kesabaran. Ketika hak kita direbut oleh orang lain, ada pilihan memerangi atau bersabar. Apa yang kita pilih?. Harus kita pertimbangkan baik dan buruk dari tindakan yang kita ambil.

Beberapa kejadian memang saya memilih merelakan hak saya di ambil orang, dengan niat bersabar karena Tuhan, karena semua yang ada di dunia ini milik Tuhan. Tentu saja ini tidak mudah. Perasaan tidak Ikhlas dan merasa didzalimi akan terus membekas dalam ingatan.

Seperti dalam cerita Sejengkal Tanah. Setelah Bapak S meninggal, saya merasa iba dengan keluarga beliau yang dalam kondisi ekonomi lemah. Dia meninggalkan seorang istri dan seorang anak. Maka setelah sepeninggal Bapak S, pepaya yang di tanam beliau tidak saya pangkas semuanya. Saya biarkan tetap berbuah untuk pohon pepaya yang sehat. Sedangkan yang tampak tidak berbuah dan tidak sehat saya pangkas. Semoga tindakan yang saya lakukan saling menguntungkan dan tidak merugikan siapapun.

Jadi pertimbangannya sebagai berikut:
  1. Pohon pepaya bisa tetap memberi manfaat orang lain, istri bapak S.
  2. Menjaga hubungan baik antara saya dan keluarga Bapak S, yang kelak akan menjadi tetangga saya.
  3. Di antara tanaman pepaya saya tanami tebu, untuk bibit kelak di tanam di sawah kami.

Dan setelah kami aplikasikan tindakan tersebut. Hubungan kami dengan keluarga almarhum bapak S tetap baik. Beberapa kali panen pepaya kita juga mendapat manfaat. Bahkan panen daun pepaya 10 ribu rupiah, oleh keluaraga bapak S uang tersebut juga diantar kepada kami. Sementara tanaman tebu yang kami tanam diantara pohon pepaya tetap bisa tumbuh dengan baik. Alhamdulillaah.

Sabar (Part 1)


Matahari masih sangat cerah. Komposisi sinarnya dengan sangat tepat menyinari pohon jambu berbiji merah di halaman depan sebuah rumah. Pohon jambu itu sangat menjadi favorit penghuninya. Rasa buahnya yang manis dan dagingnya yang terasa gurih segar membuat setiap jambu tidak bertahan lama bergelantungan di dahannya. Kulitnya yang hijau dan sedikit kekuningan ketika sudah masak membuat jambu akan samar tersembunyi diantara daun-daun hijau dan tua kekuningan.

Tampak dibawah pohon seorang anak pemilik rumah berumur 7 tahun berbadan kurus dan berkulit coklat gelap. Sebuah genter (bambu untuk meraih jambu) dari bambu kering kecil dan panjang ada digenggamannya. Dia meneliti kesemua bagian dahan pohon jambu untuk menemukan jambu yang layak untuk dia raih. Tampak dari mata anak itu akhirnya berhenti di dua tempat. Dia hanya menemukan dua buah jambu di dahan yang berbeda. Satu jambu berwarna hijau tua, sudah layak untuk dimakan dan posisinya berada didahan yang rendah dan mudah dijangkau dengan genter di genggamannya. Jambu ke dua berwarna kuning keemasan sempurna dan sangat siap untuk dinikmati. Namun jambu ke dua berada didahan yang lebih tinggi tidak terjangkau dengan genternya. Dia perlu melompat lompat untuk mendapatkan jambu ke dua.

Kedua jambu itu laksana cita-cita bagi anak itu. Dia berjanji dalam hati "akan ku raih jambuku hingga nafas penghabisan". Hingga tersirat dalam pandangan matanya "Jambu kuning keemasan dan hijau tua, tunggu kedatanganku".

Kemudian anak itu berencana untuk mendapatkan jambu pertama yang hijau tua, karena pertimbangan lebih mudah. Dengan susah payah dia mendirikan genter bambu tersebut dengan kedua tangan. Ujung genter ditahan dengan satu kakinya supaya mudah diberdirikan.

Ketika itu, datanglah tamu, dua orang dan satu anak umru 5 tahun. Mereka mengendarai satu sepeda motor tua merk yamaha memasuki halaman rumah. Tampaknya, yang berada disepeda motor paling depan dan memegang kemudi adalah Bapak dari anak yang duduk ditengah. Dan ibunya duduk dipaling belakang. Sang ibu turun dan segera bertamu masuk kedalam rumah. Sedangkan Bapak dan anak pengendara sepeda menunggu dihalaman, tepat tiga meter dari anak pemilik rumah yang sedang menggapai jambunya.

Anak pemilik rumah masih sedang bersusah payah mengambil jambu pertama dengan genternya. Beberapa kali genter itu disodokkan pada jambu hijau tua, namun jambu tua masih enggan jatuh dari dahannya. Sementara bapak bersepeda tua terpaksa menatap keatas melihat apa yang sedang diraih anak pemilik rumah. Si Bapak melihat jambu tua sedang diincar oleh genter. Kemudian dia menggeser matanya kedahan lain melihat beberapa jambu yang muda. Melihat beberapa jambu yang masih "pentil". Dan, ketika menggeser penglihatannya agak kedahan yang lebih tinggi dia menemukan "emas". Jambu keemasan yang agak tersembunyi di balik daun-daun yang ikut menguning. Tentu saja emas itu adalah jambu kedua yang sudah diincar lebih dahulu anak pemilik rumah.

Si Bapak terpesona dengan keemasan jambu tersebut. Lalu dia melihat anaknya yang kurus berada dibelakang punggungnya. Anak tersayangnya. Seketika, Dalam pikiran si bapak "aku ingin memberikan yang terbaik untuk anakku. Apapun akan kulakukan untuk anakku". " Termasuk jambu keemasan itu akan kudapatkan untuk anakku". "Jambu keemasan cita-citaku untuk anakku".

Akhirnya...tidak berpikir panjang..
Si Bapak turun dari sepeda dan mendekati anak pemilik rumah
"Nak, mana saya bantu ambilkan jambu itu untukmu" Kata si bapak sambil meraih genter yang sedang dipegang anak pemilik rumah. Dengan maksud si bapak ingin mengambilkan jambu pertama yang berwarna hijau tua untuk si anak pemilik rumah.
"em...." si anak pemilik rumah terdiam melongo tidak sempat berkata-kata melepaskan genter yang dipegangnya, karena gerakan si bapak yang cukup kuat dan cepat mengambil alih genter yang dipegangnya.

"Craaak! Sreek........ Bruk!" Hanya sekali sentak genter dari si bapak,  jambu hijau tua incaran pertama si anak pemilik rumah terjatuh ditanah.

"Nak itu jambumu... Ambillah" kata si bapak memandang si anak pemilik rumah.
Sejurus kemudian si bapak kembali mendongakkan kepalanya ke atas.
" Sekarang aku akan mengambil jambu yang lain, untuk anakku" Kata si bapak  siap mengincar jambu yang lain, yaitu jambu keemasan. Tanpa memperhatikan raut muka si anak pemilik rumah.
Si anak pemilik rumah menyadari bahwa si bapak akan mengambil jambu keemasan yang sudah diincarnya untuk anaknya. Jambu keemasan cita-citanya. Detak jantungnya berdenyut terasa lebih cepat dari pada ketika melompat meraih jambu yang pertama. Ada perasaan tidak rela jambu keemasannya di ambil orang lain. Si anak merasa tidak kuasa untuk berkata-kata. Raut muka si bapak yang tua dan berwajah seram itu membuat mulutnya kaku untuk mengatakan kegelisahan. Si anak pemilik rumah diam tak berdaya. Hanya diam.

"Craaak! Sreek........ Bruk!" Tidak lama jambu keemasan sudah jatuh di tanah, diambil oleh si bapak tua, dan di berikan kepada anaknya yang sudah menunggu di atas sepeda motor tuanya.

Si anak pemilik rumah masih terdiam, menggenggam jambu hijau tua. Hatinya remuk redam. Jambu keemasan yang menjadi cita-citanya telah dirampas oleh orang lain. Dia merasa terdzalimi. Tanpa permisi si bapak tua jelek merebut jambu keemasan miliknya. Jambu hijau tua diterkam dengan kuat oleh jari-jarinya. Tampak di kedua matanya marah, tidak ikhlas jambu keemasannya telah direbut orang lain. Jambu keemasan itu seharusnya menjadi miliknya.

"Itu jambu saya!" teriaknya....sambil menunjuk jambu keemasan yang sudah berada di ujung ujung mulut anak si bapak bersepeda tua.
Si bapak dan anak hanya terdiam, melongo. Apa mungkin dia tidak sadar telah menyakiti hati si anak pemilik rumah?.
Si bapak itu terdiam dan tersenyum tidak merasa bersalah. Sementara anaknya tetap melanjutkan memasukkan jambu keemasan masuk kedalam mulutnya. Dan digigitnya.

Si anak pemilik rumah matanya semakin memerah. Dan tiba-tiba....
Si anak pemilik rumah itu berlari....
Tapi bukan mendekat dan melampiaskan kemarahannya ke pada si bapak dan anak di atas sepeda tuanya...
Dia berlari menjauhi sambil menangis..... Dia menangis berlari masuk kedalam rumah....
Dalam hatinya "aku tidak ikhlas...". Namun dibalik ketidak ikhlasan itu si anak tetap bersabar tidak akan melampiaskan kekesalannya karena akan merugikan dirinya sendiri.